Credits to

Powered by Blogger

Sunday, September 30, 2007

Menyoal Simbol


Cuaca dan situasi kota Jakarta di bulan Ramadhan ini tampaknya memang benar-benar menguji kesabaran setiap orang yang sedang menjalani ibadah shaum. Bagaimana tidak? Darah seakan mendidih oleh matahari yang bersinar demikian teriknya. Kemacetan di seluruh titik ibukota, terutama menjelang waktu berbuka, seolah memaksa orang-orang untuk tetap duduk manis di rumah atau berdiam di kantor hingga lepas waktu berbuka. Pun demikian hal dengan saya, jika saja tidak ada keperluan yang urgen, maka saya memilih untuk tinggal di rumah ketimbang harus pergi ke sebuah kantor pemerintah yang terletak di bilangan Kota, Jakarta Barat, siang itu. Apalagi jika mengingat daerah tersebut rawan akan kemacetan yang disebabkan pembangunan terowongan penyebrangan orang [TPO] di halte busway yang tak kunjung usai.


Sesampainya saya di kantor tersebut, satu realita lagi yang harus saya hadapi adalah : antrian. Selagi menunggu antrian, tiba-tiba HP saya berbunyi tanda ada sebuah SMS yang masuk. Ternyata SMS tersebut adalah sebuah SMS dari salah seorang sahabat saya ketika masih SMU. Setelah membaca SMS yang sepertinya juga terusan dari orang lain tersebut, saya tercenung sesaat. SMS tersebut berisi sebuah peringatan untuk menghindari penggunaan huruf-huruf “4JJ I” [baca : Allah] dalam berbagai penulisan. Ujarnya, huruf-huruf tersebut ternyata menyimpan sebuah makna lain yang memiliki hubungan kuat dengan satu agama tertentu. Intinya, makna yang tersirat dari peringatan tersebut adalah : jika kita menggunakan huruf-huruf tersebut dalam penulisan, maka sama saja kita memuja Tuhan dari agama lain.


Saya lantas jadi berpikir agak panjang mengenai hal ini. Saya pun termasuk salah satu orang yang memilih untuk menggunakan tiga huruf tersebut dibandingkan menggunakan huruf “A”, “L”, dan “H”, terutama dalam penulisan SMS. Kebiasaan ini sudah bertahun-tahun saya lakukan, jauh-jauh hari sebelum datangnya SMS tersebut tentunya. Saya lebih memilih huruf-huruf tersebut karena saya pikir huruf-huruf tersebut cukup representatif sebagai pengganti huruf hijaiyah dalam menuliskan kata “Allah” dan sama sekali tidak ada pikiran bahwa kemudian huruf-huruf tersebut memiliki koneksi makna dengan pemujaan terhadap Tuhan dari agama lain. Jika kini kemudian ada orang yang mengaitkan huruf-huruf tersebut dengan pemujaan terhadap Tuhan dari agama lain, mengapa kita harus terpancing? SMS maupun email tersebut bisa saja dibuat oleh orang-orang yang hendak menyulut emosi antar umat beragama dan menghendaki terjadinya perselisihan. Waspada boleh saja, tapi jika melulu harus menaruh curiga dan segala macam prasangka buruk juga bukan perkara yang menyehatkan jiwa.


Biarkanlah anjing menggonggong, kafilah akan tetap berlalu. Biarkanlah orang-orang itu membikin ribuan akronim, singkatan, atau plesetan yang merujuk kepada agama lain, tapi yang paling penting adalah bagaimana menyikapinya dengan dewasa dan pikiran yang jernih. Jangan lantas takut kepada sesuatu yang sejatinya merupakan buatan manusia. Innamal ‘amalu binniat. Sesungguhnya tiap amal atau perbuatan seseorang itu tergantung niatnya. Wallahu’alam bishshawab.


Saturday, September 29, 2007

Trismus

einfuhlung
kala blok mandibula
berkomplikasi pada buccinator
dan masseter sungkan meregang

ini bukan perihal
ameloblastoma meresorbsi tulang
atau gangren radiks
bermetastase
mengecap endokarditis

saksikan panorama ganglion
trigeminal yang acap tak lelah
entah ke opthalmicus
atau maksilaris

manusia
mau di mana
odontektomi?
bruxism?
bisa saja berujung pada trismus


*...sejatinya amalan-amalan hati tiadalah memiliki batas...sabar adalah salah satu amalan hati, karenanya sabar tiada memiliki batas...Innallaha ma'ashshabiriin, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar...semoga Allah SWT senantiasa mengaruniakan kesabaran kepada kita semua...*


Tuesday, September 25, 2007

Secarik Maaf



bertanya :

Apa yang akan kamu perbuat apabila ada orang yang telah menyakiti hatimu sedemikian rupa?


jawabnya :

Maafkanlah ia,


bertanya kembali :

Pun bila ia telah menyebabkan rentetan masalah dalam kehidupanmu?


jawabnya kembali :

Ya,

Ia berhak memiliki masa depan,

dan dengan keikhlasan serta kemaafan darimulah

Jalannya ke depan akan semakin lapang,

Demikian pula ketika ia harus bertanggung jawab di Yaumul Akhir


*the beauty of life does not depend on how happy you are, but on how happy others because of you*


Friday, September 21, 2007

Tilawah Al-Qur’an Dapat Mengurangi Bau Mulut Saat Berpuasa


Datangnya bulan Ramadhan kerap menghadirkan kesyahduan tersendiri bagi setiap kalbu yang merindunya. Momen-momen penting yang terjadi di bulan Ramadhan rasanya dapat menginspirasi siapa saja yang hendak melakukan rihlah [wisata] ruhaniyah. Mekkah yang berhasil ditaklukan oleh kaum Muslimin, kemenangan tentara Islam melawan tentara kafir Quraisy, kehadiran Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan lebih dari seribu bulan, adalah beberapa di antaranya. Adapun momen terpenting di bulan Ramadhan adalah diwajibkannya puasa dan turunnya Al-Qur’an berbarengan dengan diangkatnya Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah. Oleh karena itu, amal di bulan Ramadhan sejatinya terfokus pada dua hal tersebut. Sedangkan, amalan lainnya merupakan suatu jalan untuk mengejawantahkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.


Karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan [QS. Al-Baqarah : 185], tak heran bila Rasulullah lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan ini dibandingkan di bulan-bulan lain. Bahkan, Malaikat Jibril pun turun langsung untuk memuroja’ah [mendengar dan menilai] bacaan Al-Qur’an beliau. Oleh karenanya, amat dianjurkan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Tilawah [membaca] Al-Qur’an ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan hakikat dasar diturunkannya Al-Qur’an untuk ditadabburi, dipahami, dan diamalkan. Allah berfirman :

“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” [QS. Ash-Shad : 29].


Maha Benar Allah dengan segala firmanNya, selain mendatangkan pahala yang berlipat ganda apabila dilakukan secara ikhlas, tilawah al-Qur’an pada saat berpuasa ternyata dapat pula mengurangi bau mulut [halitosis / fetor ex ore]. Pada saat berpuasa, selain karena adanya faktor lokal dalam rongga mulut berupa kebersihan mulut yang kurang baik dan faktor luar rongga mulut berupa penyakit kencing manis [diabetes mellitus], infeksi paru-paru, serta infeksi lambung atau usus, tidak aktifnya pengunyahan adalah penyebab utama terjadinya bau mulut. Tidak aktifnya pengunyahan ini kemudian akan memiliki implikasi berupa pengurangan produksi air liur oleh kelenjar liur sehingga keadaan rongga mulut pun menjadi kering. Pada saat yang bersamaan, zat yang disebut volatile sulfur compound [VSCs] akan meningkat sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. VSCs adalah zat yang mengandung hidrogen sulfid, metil mercaptan, dan dimetil disulfid yang merupakan produk bakteri atau flora normal rongga mulut. Dengan meningkatnya kadar VSCs ini, maka aktivitas bakteri anaerob dalam mulut pun akan turut meningkat. Aktivitas bakteri anaerob inilah yang lantas menyebabkan bau VSCs tercium oleh indera penciuman.


Dari paparan sebelumnya dapat dideduksi bahwa air liur atau saliva memegang peranan penting terhadap terjadinya bau mulut. Kondisi yang disepakati sebagai penyebab terjadinya bau mulut adalah berkurangnya air liur di dalam rongga mulut. Jika air liur dalam rongga mulut berkurang, secara otomatis proses pembersihan dalam mulut pun akan berkurang. Dengan demikian, plak pada permukaan gigi pun akan terus berakumulasi dan bakteri yang terdapat di dalamnya dapat menyebabkan bau mulut yang tidak sedap.


Berkurangnya air liur ini dalam rongga mulut dapat memiliki dua makna, yaitu; produksi air liur oleh kelenjar liur memang berkurang sehingga aliran air liur ke dalam rongga mulut menjadi berkurang atau dapat juga terjadi kondisi di mana produksi air liur oleh kelenjar liur tetap normal, tetapi aliran air liur ke dalam rongga mulut berkurang. Kondisi berkurangnya produksi air liur oleh kelenjar liur sehingga menyebabkan berkurangnya aliran air liur ke dalam rongga mulut biasanya disebabkan oleh faktor penyakit [aplasia, sialolitiasis, dll], terapi radiasi pada leher dan kepala, dan usia lanjut. Sedangkan kondisi berkurangnya aliran air liur ke dalam rongga mulut dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan tertentu [atropin, belladona, efidrin], pemakaian gigi tiruan lepasan, merokok, dan puasa.


Kondisi berkurangnya produksi air liur oleh kelenjar liur biasanya membutuhkan penatalaksanaan yang lebih kompleks. Sementara itu, kondisi berkurangnya aliran air liur ke dalam rongga mulut dapat diatasi dengan cara menginisiasi peningkatan alirannya. Cara yang paling sering digunakan untuk menginisiasi peningkatan aliran air liur ke dalam rongga mulut adalah dengan banyak mengkonsumsi air putih ataupun mengunyah permen karet. Namun, bagi orang yang sedang berpuasa dua cara tersebut tentunya tidak dapat dilakukan karena dapat membatalkan puasa.


Adapun tilawah Al-Qur’an sejatinya dapat menjadi satu alternatif yang dapat menginisiasi peningkatan aliran air liur ke dalam rongga mulut. Tilawah Al-Qur’an secara tartil [mentajwidkan huruf dan mengenal waqaf] pada saat berpuasa dapat berperan sebagai suatu substituen dari proses pengunyahan yang akan mengaktifkan otot-otot lidah, bibir, dan pipi. Dengan aktifnya otot-otot tersebut maka kelenjar liur yang terdapat di bawah lidah, dekat telinga, dan di ujung rahang bawah, juga akan lebih aktif untuk mengalirkan air liur ke dalam rongga mulut. Bila aliran air liur ke dalam rongga mulut telah meningkat, maka proses pembersihan secara mekanis juga akan terjadi. Terlepas dari keterikatan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan bau mulut dan dengan tetap memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, hal inilah yang kemudian dapat mengurangi bau mulut pada saat berpuasa.


Biar bagaimanapun juga, berkurangnya bau mulut hanyalah salah satu dari sekian banyak manfaat dari memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Adapun Ramadhan harus dapat menjadi momen untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an sebagai langkah untuk meraih keridhoan Allah dan mendapatkan kebarokahan dalam hidup sebagaimana firmanNya : “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan, dan [dengan kitab itu pula] Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” [QS. Al-Ma’idah: 15-16]. Jadi, hempas jauh-jauh segala kemalasan dan jangan ragu lagi untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Wallahu'alam bishshawab.

Tuesday, September 11, 2007

Marhaban Ya Syahrul Mubarak


Dalam semburat lembayung di bulan Sya'ban...kerinduan akan bulan Ramadhan laksana khamr yang hendak menelan kesadaran...Namun, apalah arti merindu bila salah dan khilaf pada insan terlanjur membiru? Terhatur permohonan maaf dari lubuk hati yang terdalam dari saya, semoga Ramadhan ini dapat memberikan keberkahan, Amin Ya Rabbal'alamin...

Sunday, September 09, 2007

...September Kelabu...

September ceria

September ceria

September ceria

September ceria

September ceria milik kita bersama


Sepertinya tembang lawas yang dibawakan oleh Vina Panduwinata tersebut menjadi tembang wajib acapkali almanak menunjukkan bulan September. Lirik demi liriknya mencerminkan sebuah optimisme dalam menghadapi bulan ke-sembilan pada penanggalan Masehi tersebut. Namun, sebuah kondisi yang paradoksal dengan tembang tersebut sedang dihadapi oleh para dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah yang sangat terpencil. Pasalnya, sudah dua bulan terhitung mulai bulan Juli, dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah yang sangat terpencil belum juga menerima gaji beserta insentif dari Departemen Kesehatan.


Entah mengapa permasalahan gaji dokter dan dokter gigi PTT kini menjadi demikian pelik. Contoh kasusnya seperti yang terjadi di kabupaten saya yaitu kabupaten Seram Bagian Barat. Berhubung kabupaten tempat saya bertugas ini adalah kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten Maluku Tengah, maka seluruh urusan perbendaharaan negara masih dipusatkan di kota Masohi, ibukota kabupaten Maluku Tengah. Saat pihak Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat dimintai konfirmasi mengenai kejelasan gaji dan insentif para dokter dan dokter gigi, mereka justru melimpahkan masalah ini kepada pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah. Pihak dinas Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat menjelaskan bahwa mereka akan mengirimkan seluruh daftar nama dokter dan dokter gigi yang bertugas di seluruh unit kerja Puskesmas Kabupaten Seram Bagian Barat kepada pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah. Kemudian, apabila sudah ada respon dari pihak Dinas Kesehatan Maluku Tengah, maka pihak Dinas Kesehatan Seram Bagian Barat baru akan mengirimkan data tersebut ke Departemen Kesehatan di Jakarta.


Begitu kompleks jalur birokrasi yang harus dilalui agar gaji dan insentif tersebut bisa turun. Hal ini membuat kebanyakan dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah sangat terpencil harus benar-benar dapat mengatur keuangannya sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan hidup. Padahal biaya hidup di daerah sangat terpencil terutama di Indonesia bagian Timur cukup mahal.


Sebetulnya masalah keterlambatan gaji para dokter dan dokter gigi PTT dari pusat ke propinsi ini bukan tanpa sebab yang jelas. Ketika saya mengkonfirmasi ke Departemen Kesehatan mengenai permasalahan ini, yang menjadi penyebab utama adalah karena banyaknya oknum dokter dan dokter gigi PTT yang tidak bertugas di tempat selama waktu yang telah ditentukan. Sebagai contoh, ada dari mereka yang ditugaskan selama enam bulan di tempat sangat terpencil hanya bertugas selama tiga bulan saja, atau bahkan ada yang tidak pernah berada sama sekali di Puskesmas selama enam bulan! Namun, karena pihak Dinas Kesehatan Kabupaten setempat jarang melakukan pelaporan mengenai perkara ini ke pusat, maka oknum dokter dan dokter gigi PTT tersebut tetap saja menerima gaji dan insentif. Akibat nila setitik, rusak lah susu sebelanga. Karena ulah oknum yang mangkir dari tugasnya, seluruh dokter dan dokter gigi PTT akhirnya harus menanggung konsekuensi.


Sumpah profesi yang dulu digaungkan dengan lantang, kini hanya jadi cerita usang. Idealisme sedikit demi sedikit telah tereliminasi karena materi. Bila sudah begini adanya, bagaimanakah nasib pelayanan kesehatan di Indonesia kelak? Pasien hanya dijadikan obyek untuk menghasilkan keuntungan pribadi tanpa mendapatkan pelayanan yang optimal. Sedangkan dokter terus saja menghalalkan segala cara agar dapat mengembalikan biaya perkuliahan mereka yang cukup mahal. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga idealisme saya sebagai seorang dokter gigi hingga kapan pun jua.


Thursday, September 06, 2007

In Memoriam, Mas Bebek

+ “Ros, cariin aku cewek donk, udah gak betah nih ngejomblo terus”
- “Emang Mas maunya cari yang kayak gimana sih?”

+ “Ya, yang kira-kira mau sama aku aja, hehehe”


Acapkali kita bertegur sapa via Yahoo! Messenger, pertanyaan itu kerap kau ajukan padaku. Meski kita baru satu kali kita bertatap muka saat kopdaran blogger Jakarta di Kebun Raya Bogor Januari lalu, tetapi intensitas perbincangan kita cukup sering. Mulai dari masalah pekerjaan, penulisan, hingga perjodohan. Masih teringat jelas di ingatanku kala engkau dengan begitu gigihnya hendak menjodohkan aku dengan salah seorang sahabatmu. Demi mewujudkan niatanmu tersebut, pulsa yang kian menipis rasanya tak kau hiraukan hanya untuk menanyakan perkembangan ‘proyek’mu dengan meneleponku ke handphone.

Ah Mas Wan, aku sering mengatakan padamu bahwa aku sungguh salut dengan tulisan-tulisanmu. Walau dari penampilan luar engkau terlihat sebagai sosok yang cuek, tapi sungguh sejatinya engkau adalah laki-laki yang penuh kepedulian. Kini, tulisan-tulisan cerdas itu tak dapat lagi kunikmati. Kecelakaan kapal laut di laut Aceh tanggal 2 September yang lampau telah merenggut nyawamu. Innalillahi wa innailaihi roji’un. Mas Wan, doaku : semoga Allah SWT menerima segala amal dan ibadahmu di dunia dan diringankan segala bebanmu di akhirat. Amin Ya Rabbal’alamin…

* Alm Mas Bebek [Susiawan Wijaya] duduk tepat di depan rosa [Kopdaran Kebon Raya Bogor 060107]