Credits to

Powered by Blogger

Thursday, December 27, 2007

Kontemplasi



Detik…telah berkumpul menjadi menit

Menit...telah bersatu menjadi jam

Jam…telah melebur menjadi hari

Hari…telah bertambah menjadi bulan

Bulan…telah berjalan menjadi tahun


dan nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?...


Allah…

Demikian melimpah kasih yang telah Kau curahkan pada manusia dhaif ini

Adakah jalan yang lebih indah dibandingkan jalan yang telah Kau tunjukkan

Meski berliku dan harus melaluinya dengan ketertatihan

Sejatinya, itulah caraMu mencintaku


Allah…

Jauhkan hamba dari segala noktah yang kerap menodai jiwa

Hempaskan gelimang thaghut yang berkelibat tanpa sangka

Musnahkan seluruh bara yang menjadi hijab di antara kita

Harapku, miliki sayap tuk kepakkan ke ‘Arasy…jumpaiMu…


Allah…

Sungguh kupinta,

Hanya ingin dalam belaimu

Sekali lagi…

Jangan henti ajari memujiMu

Dalam tiap debaran…dalam tiap getaran..dalam tiap kerlipan…

Tak ingin khianati rahman dan rahimMu

Karena ku selalu yakini

Dalam dada pecinta sejati, tak kan terkumpul dua hati


*karena, tiap detik adalah Anugerah...tiap tawa adalah Karunia...dan tiap tetes air mata adalah Cinta...hari ini ruh baru telah lahir kembali, tak ada yang bisa berpulang ke masa lampau, tapi selalu akan ada kesempatan untuk memulai masa depan...semoga*


…special thanks to : Bul’e, Bang Anca, Deasyku, Fathy, Bang Nanda, Icha, Diyas, Unce Marunce, Tante Ida, Om Dhan, Jeng Dewi, Fitri, Meita, Andhika, Bang Ridho, Putri, Uda Ipeng, Bang Ipin, Mba Ut, Thea, Donna, Pak’e Aroeng, Desly, Tia, Indah, Mba Desan, Ditha, Kang Jamie , Evi, Ka Monce, Dwi [atas SMS dan teleponnya : sort by chronological order] ; Adis, Ita, Yudha, Dian, Ranny, Mba Roza, Mba Retno, Mba Intan, Luiz [atas offline messagenya di Y!M] ; Mas Novi, Mas Haryo, Azhar, Idzma, Ka Samsul, Any, Tity, Setta, Mba Wiet, Bunda Nila Aura, Wilda, Bunda Ira, Bunda Nila, Mas Riza, Dr. Ady, Bunda Gege, Marabunta, Nedia, Mas Adi [atas message dan komennya di FS] ; Andik [atas kirimannya] ; dan semua orang yang telah membuat hari lahir saya menjadi lebih berwarna...


Wednesday, December 19, 2007

Romantika Masa PTT

Pengalaman masa pengabdian profesi dokter atau yang lebih dikenal dengan istilah PTT [Pegawai Tidak Tetap] Departemen Kesehatan, kerap menjadi sebuah kisah yang tak akan terlupakan bagi dokter dan dokter gigi yang menjalaninya, terutama bagi mereka yang bertugas di daerah sangat terpencil. Mulai dari pengalaman yang menyenangkan hingga tak sedikit pula yang menyedihkan. Dari sekian banyak kisah yang dialami, tampaknya kisah mengenai romantika cinta dokter dan dokter gigi PTT menjadi salah satu kisah yang cukup menarik untuk disimak.


Bagi dokter dan dokter gigi yang masih berstatus lajang, tak jarang dapat menemukan belahan jiwanya saat sedang PTT. Ada yang berjodoh dengan rekan sejawat di lokasi tugas yang sama, bahkan ada pula yang lantas menikah dengan penduduk lokal. Hal ini mungkin tak mengherankan karena interaksi dokter dan dokter gigi dengan rekan sejawat mereka dan juga dengan penduduk lokal biasanya cukup intens.


Witing tresno jalaran soko kulino, cinta bersemi karena seringnya perjumpaan. Mungkin pepatah Jawa tersebut cukup tepat untuk menggambarkan suatu ‘chemistry’ yang terjadi antara sejawat yang masih sama-sama lajang saat sedang bertugas. Interaksi antara sejawat sendiri sudah dimulai semenjak pengarahan awal dari pihak Dinas Kesehatan setempat. Setelah itu, intensitas juga akan semakin meningkat setelah mereka menempuh perjalanan bersama hingga ke kabupaten lokasi peminatan. Jalinan kasih yang kerap terjadi adalah antara dokter umum laki-laki dengan dokter gigi perempuan. Hal ini disebabkan tingginya jumlah dokter umum laki-laki dan dokter gigi perempuan melaksanakan PTT di daerah sangat terpencil. Di samping itu, tak jarang pula terjadi jalinan kasih antara sesama dokter umum dan dokter gigi. Untuk itu, banyak dari mereka yang lantas meminta izin cuti untuk terlebih dahulu mengikat cinta mereka dalam ikatan pernikahan di daerah asal. Namun, banyak juga yang memilih untuk menundanya hingga masa tugas berakhir.


Selain itu, bukan hanya romantika antar sejawat saja yang dapat terjadi. Kehadiran dokter dan dokter gigi yang masih lajang di daerah penugasan yang sangat terpencil biasanya kerap mengundang perhatian dari penduduk lokal baik dari kalangan biasa hingga pejabat yang duduk di pemerintahan setempat. Sudah bukan merupakan cerita yang aneh bila mendengar ada penduduk lokal yang jatuh hati pada dokter dan dokter gigi yang bertugas di daerahnya. Ada banyak cara yang mereka lakukan untuk melakukan pendekatan. Mulai dari rajin untuk mengunjungi Puskesmas tempat dokter dan dokter gigi PTT bekerja, datang ke rumah dinas untuk membawakan makanan, mengirimkan surat cinta, dan lain sebagainya. Cara pendekatan tersebut mungkin masih dibilang wajar, karena tak jarang ada penduduk lokal yang melakukan pendekatan secara mistik, seperti guna-guna. Kejadian ini sudah pernah dialami oleh dokter dan dokter gigi PTT yang bertugas di daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara. Selain itu, ada juga penduduk lokal yang melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap dokter dan dokter gigi perempuan seperti yang pernah terjadi di daerah Sumatera dan Sulawesi. Parahnya, penduduk lokal yang melakukan pendekatan terhadap dokter dan dokter gigi perempuan bukan hanya yang masih berstatus lajang. Banyak juga dari mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Jika sudah demikian, tak jarang yang jadi sasaran kebencian dari para istri adalah dokter dan dokter gigi perempuan tersebut.


Meski banyak dokter dan dokter gigi yang melaksanakan PTT dalam status lajang, tak jarang juga dari mereka yang telah menikah. Bagi dokter dan dokter gigi yang memiliki suami/istri dengan profesi yang sama, biasanya mereka memilih untuk melaksanakan PTT secara bersama di lokasi yang sama. Namun, terkadang hal ini pun tak lantas menutup kemungkinan bahwa tidak akan ada gangguan eksternal saat mereka bertugas. Terkadang, masih ada saja pihak-pihak yang ingin mengganggu kesetimbangan yang telah terjadi, entah itu datangnya dari penduduk sekitar atau bahkan staf pegawai Puskesmas tempat mereka bertugas. Bagi dokter dan dokter gigi yang memiliki suami/istri dengan profesi yang berbeda, maka saat harus melaksanakan PTT biasanya salah satu pihak harus meninggalkan pihak yang lain. Dalam keadaan seperti ini, terkadang masih ada saja yang berusaha untuk mencari kesempatan dalam kesempitan.


Ada yang berbahagia, tetapi ada pula yang bermuram durja. Kesemuanya itu akan menjadi kenangan tersendiri bagi para dokter dan dokter gigi PTT ketika telah kembali ke daerah asal. Satu hal yang pasti adalah, tidaklah lengkap sejarah seorang dokter atau dokter gigi bila belum melaksanakan PTT.

Wednesday, December 12, 2007

…Born to Love…

We were born to love.

We were not born to suffer.

There are times when we will meet people who are heartless, and we feel like hitting them from behind. But, we were not born to hurt others.

There are times when we will meet people who are heartless, and we feel insecured, or stifled. But, we were not born to be hurt by others.


Sometimes, we create another person inside us.

Perhaps that is just a way of escaping from pain and suffering.

Perhaps we are only preparing ourselves for escape.

Shutting ourselves and running to another place, in order to talk to that other person, the friend inside us.

That is why no one is ever alone.

Everyone of us has a friend, the person inside of us.

There are times when we think that friend is bad company, that he is cowardly and cruel.

But in reality it is different.

The one that is cowardly and cruel is not our friend, but ourselves.

Why? Because in truth, the existence of that friend is created by us for our own sake.

That is why, we have to part with that wonderful friend.

If we don’t do so, we will always dependent on that person inside us.


So, when will that happen?

It will happen when we meet the person we love.

When we give up loneliness, sorrow, pain, and the person inside us for that person that we love.


Let’s go look for the one we love.

Someone who love whom can talk to about anything, to laugh with, to cry with, to hold each other.

Someone from whom we can courage from, and to whom we can give courage in return.

Cause, the only reason we were born is to love…