Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, October 01, 2008

Rindu

Di saat seperti ini, selalu saja merindukannya…

Gelak tawanya, senyumannya, gurauannya...

Ingin sekali kembali merengkuh tangannya tuk kemudian ku cium dengan lembut...

Ingin pula ku peluk erat dirinya dan tuturkan bahwa aku demikian menyayanginya...

Ingin…

Rindu akan sua

Ingin…

Rindu akan kata

Ingin…

Rindu akan rupa






*Papa sudah damai..., dia pasti mengawasi kau dari dekat. Kirim lah doa, mintalah ampunan buatnya, dan mintalah agar Papa mengampuni semua kekhilafanmu padanya, dan katakanlah bahwa kau sayang beliau* ...[thanks for those wise words]

Monday, September 29, 2008

...Eid al-Fitr Mubarak...



Selalu saja ada yang hilang, kala Syawal datang menyambang…Di tengah riuh harap berjuta kemenangan, senantiasa terselip satu kata : Gamang…Gamang tak dapat menjumpai Ramadhan di masa mendatang, karena tiada manusia yang dapat mengelak dari iradahNya…


Sejatinya, maut itu demikian dekat daripada urat leher…Dan, jika masa datang mungkin tak akan pernah lagi menghampiri, izinkan saya tuk memohon kemaafan yang seluas-luasnya…Agar pupus sgala beban di hari perhitungan kelak…


Taqobalallahu Minna wa Minkum…

Saturday, August 30, 2008

Ramadhan ini...

Ramadhan ini kan menjadi...


Ramadhan pertama tanpa kehadiran seorang Papa

Ramadhan pertama jauh dari seorang Mama

Ramadhan pertama bersama seorang suami tercinta

Ramadhan pertama berada di negeri orang


Taqabalallahu minna wa minkum, Taqabalallahu ya Kariim…

Semoga shaum kali ini senantiasa membawa perbaikan diri dalam satu ikhtiar menuju jannahNya yang abadi…

Monday, July 14, 2008

Ikhtiar

Buana, ujarnya kamu berwarna biru bila tak berbungkus beratus cumulus. Baruna, ia pun acap berucap bahwa satu keajaiban dirimu adalah tak ingin mengalir ke dataran yang lebih tinggi, melainkan ke dataran yang lebih rendah. Itu pula yang telah mengendap di lobus-lobus otakku bahwa jika hendak menjadi tenang sepertinya, maka mengalirlah menurut aturan ‘Arasy. Mentari, katanya kamu selalu muncul di Timur kala pagi hari dan tenggelam di Barat jika bumi telah berputar separuhnya. Ia juga bilang, jikalau ragaku lebih tinggi mungkin aku bisa menggapai keindahannya dalam wujud aurora di polar-polar dunia. Namun, masih menurut penuturannya, panas yang dihasilkannya bisa meluluhlantakkan tulang belulang yang telah disatukan kembali oleh ruhku di hari perhitungan kelak. Semuanya niscaya terjadi bila amalan kebaikanku di dunia teramat ringan.


Meski nampak berkelindan bak untaian benang kusut yang sulit untuk diurai, kesemuanya demikian indah bagiku. Aku merindukan saat-saat di mana aku bisa membuktikan seluruh ucapannya padaku. Pada titik itu, mungkin dadaku agak sedikit membusung oleh rasa bangga yang melingkupi diriku. Ah tidak, aku harus buru-buru menghapus rasa itu dan menghempaskannya jauh-jauh ke bilangan Andromeda karena ia telah kerap mengingatkanku bahwa aku yang kerdil ini tak pantas memilikinya. Rasa itu hanya pantas dimiliki oleh Ia yang telah menciptakan diriku. Tak hanya itu, aku juga teramat rindu untuk menatap legam bola matanya, senyum yang tersungging elok dari bibirnya, halusnya belaian yang menjamah rambut tipisku, dan pagutan lembutnya yang senantiasa syahdu.


Aku begitu mahfum, meski terlihat tegar, lelehan air matanya kala rembulan tak sabar untuk menyambangi surya di ufuk timur sejatinya adalah sebuah kulminasi dari kerapuhan, eksistensi dari kelemahan, eksibisi dari kegalauan, dan ekspresi dari ketercabikan. Maka, sungguh jamak ketika dengan berbuncah kekerdilannya sebagai makhluk ia kemudian merasakan takut. Memang, ia pernah berkisah bahwa ketakutan itu mestinya hanya ditujukan pada Dzat Penguasa semesta. Namun, adalah makhluk yang terusir dari nirwana yang kerap berbisik pada jiwa dalam keterpekuran. Nyalinya memang belum pernah benar-benar teruji. Kadang, ia memilih untuk berjalan meretas hamparan kon blok terakota sambil menikmati kesejukan akasia yang berdiri kokoh. Di satu waktu lain, ia juga sering menyusuri pedalaman ngarai yang dikelilingi pakis. Ia tahu, bahwa hidup adalah pilihan maka cepat atau lambat ia harus memilih. Walau begitu berat implikasi dari pilihannya tersebut, ia tetap memilihnya.


Jalan tersebut bukanlah pilihan kebanyakan makhluk sebab pilu yang mendera telah menanti di ujungnya. Namun, tak tampak keraguan setitik pun pada rautnya yang mulai menunjukkan kebenaran usia biologisnya. Bahkan, senyum selalu tersungging di bibirnya yang terlihat berparit-parit karena mungkin waktunya telah habis untuk berbaring di peraduan dibandingkan untuk meneguk segelas air. Ia bilang dulunya ia pernah berazzam tidak akan pernah mengambil jalan itu, tetapi takdir telah berkata lain. Dinding-dinding kokoh itu telah mengurungnya dalam waktu yang tidak sebentar. Berbagai besi tahan karat itu menjadi saksi akan bermacam polah yang tak pernah diinginkannya. Mungkin ada peluh, mungkin ada amarah, dan bukan tak mungkin banyak jua derai tawa. Sesaat tampak jelas kepasrahan pada rupanya. Ia sudah tak pedulikan lagi segenap kebanalan yang ada. Ketakutannya serta merta terkubur dalam makam tak bernisan. Itikadnya hanya satu : menyeruakkan aksara keharuan atas segenggam nurani.


Aku bahagia karena cintanya padaku bukan sekedar semiotika belaka. Aku pun kelak, ketika cakrawala telah demikian jelas adanya bagiku, ingin mencintanya seperti itu. Cinta yang tak datang dengan kata, tetapi menghampiri dengan hati. Cinta yang tak terucap dengan kata, tetapi hadir dengan sinaran mata. Cinta yang tak hadir karena permintaan, tetapi hadir karena ketentuan. Cinta yang tak sekedar berjanji, tetapi senantiasa berikhtiar untuk memenangi…dengan segenap pengorbanan dan kesetiaan.


Tuesday, June 10, 2008

Memoar Qalbu



Cinta, ingatkah kau hari ini di lima bulan yang lalu? Ya, lima bulan lalu, tepat tanggal 10 Januari 2008, kau telah mengikrarkan sebuah janji suci, janji yang teramat berat di hadapanNya. Oleh karenanya, Al-Qur’an menyebutnya sebagai mitsaqan ghaliza [perjanjian yang kuat dan sangat berat]. Mungkin, kau kerap berujar dalam hati, mengapa aku demikian menghitung detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, dan bulan demi bulan yang kita lalui? Semuanya bermuara pada satu hal : sejatinya, hari yang demikian oleh Allah adalah anugerah bagi hambaNya, dan aku ingin kita selalu mensyukuri setiap hari yang telah kita lewati. Bukan hanya itu, di balik kesyukuran itu, kita pula harus senantiasa bermuhasabah, apakah anugerah yang telah dikaruniakan oleh Allah ini telah kita optimalkan, atau belum?


Lima bulan. Waktu yang bisa dimanfaatkan untuk Zea mays. L [jagung] untuk dapat tumbuh sempurna. Lima bulan juga merupakan titik peralihan ajaib dalam perkembangan seorang bayi mungil. Sesuatu terjadi di dalam system syaraf bayi yang tampaknya menggantikan kebutuhannya menangis. Di titik ini, bayi memperoleh kemampuan berinteraksi dengan dunia dengan cara lain. Ia mulai meraih segala sesuatu dengan kedua tangannya dan bukan menangis lagi. Seluruh tubuhnya, mungkin dapat ikut merasakan kegembiraan karena melihat orang tertawa. Bayi pada usia ini, mungkin merajuk pada saat lapar dan tidak lagi menangis, dan mungkin sanggup untuk menunggu selama beberapa menit. Kemampuan menunggu untuk mendapatkan imbalan ini merupakan satu tahap penting yang memperlihatkan tingkat pengertian dan kepercayaan yang belum terlihat pada bayi yang lebih muda.


Sungguh ajaib bukan, Cinta? Itu semua terjadi hanya dalam waktu lima bulan. Jadi, salah besar bila ada orang yang berujar bahwa waktu lima bulan adalah waktu yang singkat untuk terjadinya sebuah perubahan. Demikian pula dengan lima bulan waktu pernikahan yang telah kita berdua lampaui. Begitu banyak hal yang telah kita alami selama kurun waktu lima bulan ini. Beragam kejadian yang belum pernah kita rasakan dalam kurun waktu kita hidup di bumiNya telah kita alami. Hampir semua kejadian memiliki kesamaan : selalu ada air mata yang tertumpah di dalamnya.


Terkadang, aku bertanya dalam diri, mengapa Allah membuat skenario yang mungkin bila kita hanya melihat secara superfisial, kita hanya menganggapnya sebagai cobaan semata. Mengapa ini semua terjadi di waktu yang seharusnya bisa kita lalui dalam beragam keindahan mahligai pernikahan mengingat singkatnya masa ta’aruf kita yang hanya dalam hitungan hari? Bagiku, ini adalah cara Allah untuk memperkenalkan diriNya pada kita, hamba-hambaNya yang sungguh teramat dhaif. Ini adalah jalan yang ditunjukanNya agar kita dapat membangun sebuah pondasi yang kokoh dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengan engkau sebagai nakhodanya. Kau adalah imamku. Engkau adalah pakaian bagiku dan aku adalah pakaian bagimu. Karenanya, kenakanlah baju zirahmu tuk bertarung demi kehormatanku karena engkau adalah pahlawan yang telah lama kuimpikan.


Sayang, pastinya engkau lebih mengetahuinya daripada aku bahwa : ketika Allah memberikan kita cobaan, berarti Allah sedang memberi perhatian yang lebih, memberikan kasih sayang yang lebih pada kita. Karena hakikat dari cobaan atau ujian adalah sebanding dengan tingkat keimanan kita yang jika kita bersabar, maka Allah akan naikkan keimanan. Namun, sebaliknya jika kita menjadi kufur, maka akan turun tingkat keimanan kita. Mungkin kita telah melupakan malam-malam di mana kita menangis, mengingat semua dosa, khilaf, dan maksiat yang kita lakukan, merenungi betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan. Sejatinya, Allah rindu akan air mata kita, Allah rindu dengan curahan hati kita kepadaNya.


Ya, kita memulai segalanya dari titik nol [seperti yang pernah kau katakan padaku]. Meski berjalan dengan ketertatihan, tertusuk oleh berbagai onak dan duri yang berserak di jalan yang kita lewati, dihujam oleh tombak thagut-thagut keduniawian, terhempas di tengah badai yang ditingkahi dengan ketidakbersahabatan saung tempat kita berteduh, kita harus tetap bertahan. Bangkit untuk kemudian berdiri kokoh dan berjalan tegak tanpa sebiji sawi kesombongan dalam kalbu. Meniadakan dada-dada yang membusung pongah, karena hidup adalah untuk beribadah pada Allah dan Allah menciptakan kita tak lain hanya untuk beribadah padaNya.


Sayang, ketakutanku terhadap hari esok ketika surya mulai menyembul di ufuk timur bukan karena Izrail senantiasa siap untuk mengambil ruhku kapan saja. Ketakutanku semata karena aku belum banyak memberi kepadamu, wahai Pangeranku. Karena, azzamku adalah satu : Aku tidak layak untuk menerima, tapi aku yakin bahwa aku harus selalu memberi. Maaf, jika aku dengan segala kelemahanku belum bisa banyak memberikanmu kebahagiaan melainkan air mata. Terima kasih, untuk secercah cinta yang telah sudi kau berikan padaku, perempuan yang demikian papa. Dan, aku teramat menyadari bahwa bilangan masa akan terus bergulir, bukan mendekati titik nol, melainkan terus merangkak tiada batas. Hingga waktu Israfil meniupkan sangkakala, atau mungkin Izrail dahulu yang datang memanggil. Karenanya, bila usiaku usai sampai di sini dan hari esok benar-benar tak dapat kujumpai lagi, perkenankan aku untuk berujar : aku cinta kamu.


...dedicated special to my beloved husband : Agung Shamsuddin Saragih, luv u very much, Hun, meski hanya terucap lirih yakinilah bahwa namamu ada dalam tiap delik doaku...

Saturday, May 10, 2008

...Tears in Heaven...




Would you know my name

If I saw you in heaven?

Would it be the same

If I saw you in heaven?


I must be strong

And carry on,

'Cause I know I don't belong

Here in heaven


Would you hold my hand

If I saw you in heaven?

Would you help me stand

If I saw you in heaven?


I'll find my way

Through night and day,

'Cause I know I just can't stay

Here in heaven


Time can bring you down,

Time can bend your knees.

Time can break your heart,

Have you begging please, begging please.


Beyond the door,

There's peace I'm sure,

And I know there'll be no more

Tears in heaven.



*an old song from Eric Clapton...senantiasa mengenangmu, tunggulah aku di sana karena cinta ini akan selalu abadi...

Sunday, March 16, 2008

Untuk Satu Kata

Untuk satu kata yang tak pernah terucap…

Maafkan, jika aku hanya dapat berkata-kata pinta

Dalam wajah yang tiada lelah,

Kuartikan itu sebagai sebuah kesanggupan

Dan selalu, kau memenuhinya dengan sempurna


Untuk satu kata yang tak pernah terucap…

Terima kasih, kau telah membuka jalanku tuk raih hidayahNya

Dalam beberapa jam perjalanan,

Kuyakini itu adalah ungkapan kebahagiaan

Dan kerapkali, kau kejawantahkan dalam ribuan karya nyata


Untuk satu kata yang tak pernah terucap…

Maafkan, bila hanya keluh yang bisa kuulurkan

Dalam raut yang tak bercemas

Kuanggap itu sehangat semangat

Dan senantiasa, kau ajarkan aku untuk bangkit, meski dalam ketertatihan


Untuk satu kata yang tak pernah terucap…

Terima kasih, atas jutaan kebersamaan yang telah kita lalui bersama

Dalam ceriaku,

Dalam sedihku,

Dalam waktu-waktu luang yang kau miliki

Kumaknai itu sebagai sebuah perlambangan sayang

Dan acapkali, kau wujudkan walau letih telah meremukredamkan raga gagahmu


Untuk satu kata yang tak pernah terucap…

Maafkan, jika kilahan sering terlontar dari bibir seorang manusia yang dhaif

Dalam keyakinan yang menghujam jauh ke dasar bumi

Kusadari itu adalah sebuah semiotika cinta

Karena sejatinya, begitulah caramu ajariku mengenal dunia


Untuk satu kata yang tak pernah terucap…

Terima kasih, telah menitipkan aku pada seorang lelaki pilihanmu

Dalam senyum yang tak pernah berhenti tersungging

Kumaknai itu adalah euforia bercampur kelegaanmu

Karena telah menunaikan amanah dari Allah

Menjaga dan mengantarku hingga bertemu imam dalam hidupku


Untuk satu kata yang tak pernah terucap…

Izinkan aku mengumandangkannya pada semesta

Bahwa aku demikian mencintaimu

Sungguh mencintaimu

Dalamnya palung Mariana, sungguh tiada dapat dibandingkan dengan dalamnya

Cinta ini padamu

Hanya untukmu, Papa…


*Cinta itu indah...karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yg luas, dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yg diperlukan oleh orang yg kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya [M. Anis Matta] --- Terima kasih, Pah, telah mengajarkanku menjadi seorang perempuan. Terima kasih, Allah, telah memberikan aku seorang ayah yang demikian hebat *


Wednesday, February 27, 2008

...Satu Rindu...




Syahdan, kehidupan adalah sebuah daur yang akan senantiasa melingkar. Tak selamanya manusia akan berada di puncak kebahagiaan, pun sebaliknya selalu berkutat di bawah kesedihan. Demikian halnya dengan saya sebagai seorang manusia biasa yang teramat dhaif. Belumlah genap tiga minggu saya merasakan kebahagiaan atas pernikahan saya yang dilangsungkan pada 1 Muharram 1429 H yang lalu, Papa yang selama ini bertanggung jawab penuh atas diri saya harus kembali ke haribaan Sang Pemilik Jiwa.


Manusia memang hanya bisa berencana, tetapi Allah jua yang menentukan semuanya. Lebih dari satu bulan yang lalu, saya berencana membuat sebuah kejutan untuk Papa di hari lahirnya yang ke-56, tepat pada hari ini, 27 Februari 2008. Saya ingin pulang dari Seram ke Jakarta tanpa sepengetahuan beliau dan suami saya. Saya ingin sekali mengajak dua lelaki pilihan Allah untuk saya tersebut beserta Mama untuk makan malam bersama di luar. Sejak saya menikah, saya memang belum pernah duduk makan bersama di satu meja dengan mereka, karena satu hari setelah menikah saya sudah harus kembali lagi ke pulau Seram, Maluku, untuk menjalankan tugas profesi.


Namun, rupanya Allah memiliki kehendak lain, Dia telah memanggil Papa tepat delapan belas hari setelah menyerahkan mandatnya kepada suami saya. Tak seperti saat-saat sebelumnya, ketika saya menyampaikan kepada Papa bahwa saya sedang berta’aruf dengan seorang lelaki dan ada kemungkinan bahwa proses untuk menuju pernikahannya akan berlangsung cepat jika satu sama lain telah sama-sama memiliki kemantapan hati, Papa pun tak banyak menentang. Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Papa akan berkeras menyuruh saya untuk berpikir ulang mengenai proses yang sedang saya lakukan tersebut. Namun, pada kenyataannya, Papa hanya berujar, "Ya, adek atur aja gmana baiknya, yang penting buat Papa dia bisa mimpin adek, itu aja." Bagi sebagian besar orang, mungkin proses yang saya dan suami saya lakukan bisa dibilang sangat kilat. Satu kali bertemu saat ta’aruf, satu kali bertemu ketika suami saya bertandang ke rumah, satu minggu setelah itu dilangsungkan proses khitbah atau lamaran, dan satu minggu kemudian diikrarkanlah sebuah mitsaqan-ghaliza.


Mungkin, Papa memang sudah menyiapkan seorang pengganti, meski tiada yang bisa menggantikan, dirinya untuk saya. Ya, rindu pada Papa acapkali menelisik syahdu di balik kalbu nan sendu. Berjuta kenangan akan Papa tak akan mungkin hilang dari ingatan saya. Suaranya, senyumnya, tawanya, perhatiannya, kemarahannya, semuanya tentang Papa. Papa yang menurut Mama senantiasa gelisah jika saya belum ada di rumah jika malam telah tiba, Papa yang selalu menelepon saya hanya sekedar menanyakan kabar dan posisi saya berada, Papa yang kerap memarahi saya kala saya melakukan kecerobohan, Papa yang tidak sungkan untuk membeli minuman pereda sakit datang bulan ketika dismennorhoe itu menyerang saya begitu hebat, Papa yang rela mengantarkan saya hingga ke pulau Seram, Maluku, untuk melaksanakan pengabdian profesi, Papa yang hanya memasang foto saya di dompetnya, Papa yang dengan sigap mengambilkan gunting ketika melihat ada benang yang terjulur dari jilbab yang saya kenakan, dan lain-lain.


Terima kasih, Allah, telah memberikan seorang Papa yang demikian hebat untuk seorang perempuan yang rapuh sepertiku. Terima kasih, Pah, telah menyukmakan sosok perempuan yang kuat untuk mengarungi pahit getir kehidupan ini. Ikhtiarku, persembahkan segala yang terbaik untukmu dan membuatmu bangga kala menyaksikanku di alam sana. Harap dan inginku, semoga Allah Rabbul ‘Izzati berkenan mempertemukan kita di alam yang abadi kelak, sebuah ruang di mana kita tidak akan mungkin lagi terpisah oleh apapun jua, Insya Allah.


Tuesday, February 19, 2008

...Menikah...

Assalamu'alaikum Wr Wb...


Kutuliskan surat ini dalam buncahan rasa rindu yang mendalam atas indahnya persahabatan yang kita jalani

untuk itu

Kusampaikan segala pinta agar hari-hari itu tak berlalu dari hadapanku meski mungkin jarak kan memisahkan


Kutuliskan surat ini dalam lelehan air mata yang mengalir demikian deras mengingat segala kebaikan yang pernah kalian hantarkan padaku

untuk itu

Kusampaikan segala doa agar Allah SWT berkenan membalas segalanya dengan balasan yang lebih baik di akhirat kelak karena mungkin ku tak kan mampu membalasnya


Kutuliskan surat ini dalam pintalan kasih yang terajut dalam simfoni indah tanpa sekat syak wa sangka

untuk itu

Kusampaikan segala maaf atas kelebatan dzon yang sempat bersemayam dalam dada karena sejatinya aku hanyalah seorang manusia dhaif yang penuh khilaf


Kutuliskan surat ini dalam alunan kesyukuran atas segala iradahNya yang telah mempertemukan kita

untuk itu

Kusampaikan segala harap agar tali-tali ukhuwah yang telah tersambung tiada pernah dapat terputus walau tuntutan roda kehidupan terus memburu


Kutuliskan surat ini dalam eksotika keindahan cinta berbalut pesona setiap detail kuasa Ilahi atas seluruh alur yang kita lalui

untuk itu

Kusampaikan segala tutur tuk tebarkan jutaan ibroh pada semesta dengan penuh keikhlasan dan kelapangan dada


Kutuliskan surat ini dalam guratan secercah sinar yang menelisik jernih dalam sudut-sudut hatiku

untuk itu

Kusampaikan segala senyum tulus dan terindah kalian seluruh sahabatku di hari bahagiaku...

---


Alhamdulillah, sebagaimana Allah SWT telah mempertemukan Adam AS dengan Siti Hawa di Padang Arafah dalam iradahNya...semoga Allah SWT juga meridhoi kami :

Drg. Deasy Rosalina

[FKG UI'01]

dan

Agung Shamsuddin Saragih, ST, MS-Eng

[FT Mesin UI'99]


yang telah mengikrarkan sebuah mitsaqan-ghaliza pada 1 Muharram 1429 H [10 Januari 2008] lalu.


Dengan sepucuk surat ini kami juga memohon maaf yang sebesar-besarnya pada seluruh sahabat karena baru dapat memberi kabar ini sekarang. Kala itu, kami baru melaksanakan akad nikah yang dihadiri oleh keluarga dekat saja. Rencananya, setelah saya selesai melaksanakan pengabdian profesi di pulau Seram akhir Maret'08 ini kami akan melaksanakan walimatul'ursy. Namun, berhubung alm. Papa saya, M.Zein Sukri, telah berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 28 Januari 2008 kemarin, rencana tersebut mungkin akan mengalami penundaan atau bahkan ditiadakan.


Sekali lagi, saya, mewakili suami dan keluarga besar tetap memohon doa dari seluruh sahabat sekalian. Kami haturkan banyak terima kasih atas segala pengertian yang diberikan. Syukran Jazakumullah Khairan Katsira.


Wassalamu'alaikum Wr Wb...


-RoSa & Agung-


Friday, February 15, 2008

Maut itu...


“Cukuplah kematian itu sebagai nasehat.” [HR. Thabrani-Baihaqi]


Maut. Manusia mana di belahan bumi ini yang dapat menghindar ketika Izrail telah datang memanggil? Beribu mil jauhnya manusia berusaha lari dari maut, beribu mil itu pula dengan sigap ia akan menghadang di ujung jalan. Jika kini dengan pelbagai teknologi di bidang kedokteran sebuah kelahiran dapat ditentukan dan direncanakan, maka tidak demikian halnya dengan maut. Secanggih apapun instrumen diagnosis, tidak ada satu pun yang dapat memberikan prognosis pasti mengenai sebuah kematian. Pun ia, tak mesti didahului oleh sebuah sakit yang mendera. Ia bisa menjemput kala kita sedang terlelap tidur, berkumpul bersama keluarga, atau bermacam kesibukan lainnya.


Tak terkecuali dengan Papa saya, Muhammad Zein Sukri, yang telah Allah panggil pada 28 Januari yang lalu. Seumur hidupnya, beliau tak pernah dirawat di rumah sakit. Rokok dan kopi pun tak pernah dikonsumsinya. Bahkan, setengah jam sebelum beliau dipanggil kehadirat Sang Pemilik ‘Arasy, kami masih sempat berkirim SMS. Tiada pertanda apapun bahwa pahlawan terbesar dalam hidup saya itu akan meninggalkan saya dan Mama untuk selama-lamanya. Satu hal yang saya sesali adalah, saya tak berada di samping Papa ketika beliau sedang meregang nyawa. Lautan yang terbentang demikian luas, membuat saya hanya bisa mencium keningnya di detik terakhir jenazahnya hendak dishalatkan, karena sejak kabar meninggalnya Papa sampai pada saya yang sedang berada di pulau Seram pada pukul 16.30 WIT, saya baru bisa sampai di Jakarta pada pukul 12.00 WIB keesokan harinya, Selasa 29 Januari 2008.


Papa yang tanggal 27 Februari tahun ini berusia 56 tahun adalah sungguh sosok Ayah yang luar biasa. Sebagai seorang anak perempuan tunggal, saya selalu mendapatkan curahan kasih sayang yang berlimpah darinya. Hampir semua keinginan saya beliau turuti. Setiap ada waktu luang, beliau pasti menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput saya di mana pun saya berada. Tak pernah sekalipun Papa mengeluh pada saya bahwa beliau sedang merasakan keletihan atau sakit. Hanya satu kali Papa mengeluh pada saya bahwa dirinya sedang merasa tidak enak badan yaitu pada pagi hari sebelum beliau meninggalkan kami, keluarga yang sangat mencintainya, ke tempat peristirahatan abadi. Sungguh, ketika meninggalnya pun, beliau sama sekali tidak merepotkan istri dan anaknya karena kebetulan Mama masih berada di kantor dan saya sendiri masih di pulau Seram.


Papa, meski kau dan aku kini terpisah oleh dimensi ruang dan waktu, yakinilah bahwa aku, putri tunggalmu, akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang kau bangga. Dan, semoga Rabbul’ Izzati berkenan mempersatukan kita di dalam jannahNya kelak. Amin.


*dalam buncahan air mata yang tak terbendung, mencintainya teramat sangat…*

Wednesday, January 09, 2008

Energi Sebuah Maaf

Dalam fase perjalanan hidup seorang insan di dunia rasanya tiada yang tak pernah merasakan sesuatu yang bernama perselisihan. Entah bagaimana akhir kisah dari perselisihan tersebut pastinya akan sempat menorehkan sebuah luka di hati. Ada dua pilihan penatalaksanaan dari luka tersebut ; pertama tetap membiarkan luka tersebut ada di dalam hati, dan kedua menutup serta merawat luka tersebut dengan kata ajaib bertitel maaf.


Sejatinya luka yang apabila tetap dibiarkan, mungkin dapat menyembuh tetapi sungguh penyembuhannya tidak akan sesempurna bila dibandingkan dengan luka yang dirawat. Hasil akhirnya sungguh memiliki perbedaan yang signifikan. Luka di kulit yang dibiarkan terbuka biasanya akan meninggalkan noktah atau hingga yang paling parah adalah berupa jaringan parut. Namun, luka di kulit yang dirawat dengan baik dapat menyembuh hingga strukturnya kembali seperti semula. Memang, untuk merawat luka tentunya dibutuhkan tenaga juga waktu, tetapi apalah arti dari kesemuanya itu bila hasil akhir yang didapatkan akan lebih baik bila dibandingkan dengan hanya membiarkan luka yang ada?


Maaf. Terlihat sebagai sebuah kata yang sepele, tapi sungguh memiliki energi yang luar biasa dalam mengubah segalanya. Saya sangat meyakini bahwa sebilah dendam yang menelisik di dalam hati bisa menyebabkan aura seseorang menjadi kurang baik. Artinya, gelombang energi yang dipancarkan dari orang tersebut merupakan energi negatif. Jika sudah demikian, maka sebagaimana halnya kejadian-kejadian lain yang ada di dunia ini, akan terjadi satu hukum sebab akibat demi tercapainya suatu kesetimbangan. Karena setiap delik hal yang terjadi adalah berupa energi dengan frekuensi tertentu, maka segala yang kita pikirkan, emosikan, tuturkan, dan persepsikan ada dalam bentuk energi yang akan menyebar ke semesta. Mudahnya begini, setiap satu frekuensi energi negatif yang kita sebarkan pada semesta, maka kita akan mendapatkannya kembali dalam jumlah yang sama. Jadi, bisa dibayangkan bila dendam yang ada dalam jiwa bertumpuk-tumpuk, maka sebanyak itu pulalah energi negatif akibat dendam yang kita dapatkan.


Bukan hanya menyebabkan cahaya hati menjadi padam, dendam yang terbenam dalam jiwa dapat juga memiliki implikasi pada orang yang dikenai bara tersebut. Mengapa? Karena sejatinya, energi negatif dari orang yang memiliki dendam padanya akan tetap terpancar dan tanpa disadari dapat membawa efek yang buruk. Tak jarang ada orang yang bercerita mengenai perjalanan hidupnya yang kerap menghadapi kerikil-kerikil tajam meski telah banyak ibadah yang ia lakukan. Shaum Senin-Kamis, sholat tahajjud, berdoa, amal shodaqoh, dan lain-lain telah dilakukan, tetapi tetap saja keterpurukan nasib enggan berpaling dari dirinya. Disadari atau tidak, hukum alam pasti berlaku : karena jumlah energi positifnya belum sebanding dengan jumlah energi negatif yang dihasilkannya pada waktu yang sama, maka hasilnya akan tetap negatif. Pada intinya, banyak orang yang kerap mengalami ketertatihan untuk melangkah ke depan adalah karena mereka mempertahankan energi negatif dalam jiwa dalam bentuk marah dan dendam pada orang lainnya.


Meski dirasakan amat berat, ketulusan hati dalam memaafkan adalah kunci dari segalanya. Bentuk memaafkan bukan berarti menerima begitu saja ketidakadilan perlakuan yang telah dilakukan terhadap diri atau pula sebanding dengan kewajiban untuk menghubungi orang yang pernah menyakiti. Stigma yang umum adalah bahwa memaafkan merupakan sesuatu yang dilakukan untuk orang lain. Memaafkan, sejatinya adalah tindakan yang dilakukan demi kepentingan diri sendiri dan hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Memaafkan bukan hanya ditujukan untuk orang lain, tapi sungguh lebih diarahkan untuk diri sendiri. Memohon ampunan pada Allah dan bertaubat atas kealpaan yang pernah terjadi serta menganggapnya sebagai satu pelajaran penting kehidupan dari Allah, merupakan bentuk penting dari memaafkan diri sendiri. Hanya orang-orang kuatlah yang mampu memaafkan orang lain maupun diri sendiri. Lantas, siapa sajakah orang-orang yang harus mendapatkan kemaafan? Cobalah ingat kembali wajah seseorang dan tentukan perasaan diri terhadapnya. Apabila ada emosi negatif yang seketika membuncah dalam hati, maka orang inilah yang harus dimaafkan.


Saya percaya, ketika hati telah lapang untuk memaafkan, maka seketika itu pula keajaiban di sekeliling dapat terjadi. Saat kemaafan telah diberikan, maka pada saat itu pulalah energi negatif yang selama ini menjadi tabir antara diri kita dengan orang tersebut akan terbuka. Implikasinya, orang itu pun akan merasakan sesuatu yang sangat positif dalam dirinya. Bukan merupakan hal yang aneh apabila di suatu hari kemudian, setelah kita memberikan maaf pada orang tersebut, secara tiba-tiba sikapnya berubah meskipun kita tak pernah memberitahunya bahwa ia telah mendapatkan sertifikasi kemaafan dari kita.


Sebilah keikhlasan hati untuk memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti atau menzalimi diri, sejatinya dapat menguras energi negatif yang selama ini telah dihasilkan tanpa disadari. Pada saat itulah, energi positif dalam diri akan semakin terpancar dan masa depan yang cerah makin mudah untuk diraih. Kemaafan, dapat menerbangkan noktah-noktah hitam dalam jiwa ke bilangan Andromeda, dan pada saat jiwa dalam keadaan bersih itulah ribuan harap yang disanjungkan akan lebih mudah diijabah oleh Allah, Insya Allah. Wallahu’alam bishshawab.


Saturday, January 05, 2008

Kangen!!!

Tadi pagi, saya sempat melihat-lihat profil Friendster seorang adik kelas angkatan 2003 yang saat ini masih menjalani masa ko-asisten di kampus. Adik kelas saya ini dulunya adalah anak buah saya ketika saya menjadi koordinator biro kemahasiswaan senat mahasiswa FKG UI periode 2004-2005. Kini, dia telah menjabat sebagai ketua senat mahasiswa FKG UI. Di profilnya tersebut, saya mendapati banyak sekali foto-foto kegiatan kemahasiswaan kampus.


Ah, memori saya pun lantas melanglang buana. Tak pernah menyangka sebelumnya bahwa saya akan merindukan masa-masa itu. Masa-masa di mana organisasi kampus sangat dijauhi oleh para mahasiswanya lantaran rasa takut yang berlebihan terhadap tuntutan kurikulum fakultas yang demikian padat. Masa-masa di mana keputusan-keputusan berat harus diambil ketika pilihan ujian, rapat, dan aksi, ada di waktu yang sama. Masa-masa di mana hang-out di mall-mall lebih menjadi pilihan dari mahasiswa fakultas kebanyakan gadis [a.k.a FKG] ketimbang harus menghadiri kegiatan kerohanian kampus. Masa-masa di mana hanya sedikit mahasiswa yang mau mengaktualisasikan dirinya dalam benturan-benturan pemikiran di luar teori-teori bedah mulut, orthodontia, prostodontia, konservasi gigi, periodontia, pedodontia, penyakit mulut, kesehatan gigi masyarakat, dan radiologi.


Setelah satu setengah tahun meninggalkan dunia kampus, entah bagaimana kondisinya sekarang. Yang jelas, saya hampir tak pernah mendengar berita mengenai aksi-aksi mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah yang kontroversial, bagaimana perkembangan kegiatan kemahasiswaan di fakultas saya, dan siapa mahasiswa-mahasiswa yang kini menduduki jabatan-jabatan strategis di lembaga kemahasiswaan. Entah, mungkin hal itu dikarenakan saya yang kurang mengikuti segala perkembangan yang ada dikarenakan sedang berada di negeri antah berantah, ataukah memang pergerakan mahasiswa khususnya di UI sedang mati suri dikarenakan biaya perkuliahan yang semakin melangit ???