Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, January 09, 2008

Energi Sebuah Maaf

Dalam fase perjalanan hidup seorang insan di dunia rasanya tiada yang tak pernah merasakan sesuatu yang bernama perselisihan. Entah bagaimana akhir kisah dari perselisihan tersebut pastinya akan sempat menorehkan sebuah luka di hati. Ada dua pilihan penatalaksanaan dari luka tersebut ; pertama tetap membiarkan luka tersebut ada di dalam hati, dan kedua menutup serta merawat luka tersebut dengan kata ajaib bertitel maaf.


Sejatinya luka yang apabila tetap dibiarkan, mungkin dapat menyembuh tetapi sungguh penyembuhannya tidak akan sesempurna bila dibandingkan dengan luka yang dirawat. Hasil akhirnya sungguh memiliki perbedaan yang signifikan. Luka di kulit yang dibiarkan terbuka biasanya akan meninggalkan noktah atau hingga yang paling parah adalah berupa jaringan parut. Namun, luka di kulit yang dirawat dengan baik dapat menyembuh hingga strukturnya kembali seperti semula. Memang, untuk merawat luka tentunya dibutuhkan tenaga juga waktu, tetapi apalah arti dari kesemuanya itu bila hasil akhir yang didapatkan akan lebih baik bila dibandingkan dengan hanya membiarkan luka yang ada?


Maaf. Terlihat sebagai sebuah kata yang sepele, tapi sungguh memiliki energi yang luar biasa dalam mengubah segalanya. Saya sangat meyakini bahwa sebilah dendam yang menelisik di dalam hati bisa menyebabkan aura seseorang menjadi kurang baik. Artinya, gelombang energi yang dipancarkan dari orang tersebut merupakan energi negatif. Jika sudah demikian, maka sebagaimana halnya kejadian-kejadian lain yang ada di dunia ini, akan terjadi satu hukum sebab akibat demi tercapainya suatu kesetimbangan. Karena setiap delik hal yang terjadi adalah berupa energi dengan frekuensi tertentu, maka segala yang kita pikirkan, emosikan, tuturkan, dan persepsikan ada dalam bentuk energi yang akan menyebar ke semesta. Mudahnya begini, setiap satu frekuensi energi negatif yang kita sebarkan pada semesta, maka kita akan mendapatkannya kembali dalam jumlah yang sama. Jadi, bisa dibayangkan bila dendam yang ada dalam jiwa bertumpuk-tumpuk, maka sebanyak itu pulalah energi negatif akibat dendam yang kita dapatkan.


Bukan hanya menyebabkan cahaya hati menjadi padam, dendam yang terbenam dalam jiwa dapat juga memiliki implikasi pada orang yang dikenai bara tersebut. Mengapa? Karena sejatinya, energi negatif dari orang yang memiliki dendam padanya akan tetap terpancar dan tanpa disadari dapat membawa efek yang buruk. Tak jarang ada orang yang bercerita mengenai perjalanan hidupnya yang kerap menghadapi kerikil-kerikil tajam meski telah banyak ibadah yang ia lakukan. Shaum Senin-Kamis, sholat tahajjud, berdoa, amal shodaqoh, dan lain-lain telah dilakukan, tetapi tetap saja keterpurukan nasib enggan berpaling dari dirinya. Disadari atau tidak, hukum alam pasti berlaku : karena jumlah energi positifnya belum sebanding dengan jumlah energi negatif yang dihasilkannya pada waktu yang sama, maka hasilnya akan tetap negatif. Pada intinya, banyak orang yang kerap mengalami ketertatihan untuk melangkah ke depan adalah karena mereka mempertahankan energi negatif dalam jiwa dalam bentuk marah dan dendam pada orang lainnya.


Meski dirasakan amat berat, ketulusan hati dalam memaafkan adalah kunci dari segalanya. Bentuk memaafkan bukan berarti menerima begitu saja ketidakadilan perlakuan yang telah dilakukan terhadap diri atau pula sebanding dengan kewajiban untuk menghubungi orang yang pernah menyakiti. Stigma yang umum adalah bahwa memaafkan merupakan sesuatu yang dilakukan untuk orang lain. Memaafkan, sejatinya adalah tindakan yang dilakukan demi kepentingan diri sendiri dan hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Memaafkan bukan hanya ditujukan untuk orang lain, tapi sungguh lebih diarahkan untuk diri sendiri. Memohon ampunan pada Allah dan bertaubat atas kealpaan yang pernah terjadi serta menganggapnya sebagai satu pelajaran penting kehidupan dari Allah, merupakan bentuk penting dari memaafkan diri sendiri. Hanya orang-orang kuatlah yang mampu memaafkan orang lain maupun diri sendiri. Lantas, siapa sajakah orang-orang yang harus mendapatkan kemaafan? Cobalah ingat kembali wajah seseorang dan tentukan perasaan diri terhadapnya. Apabila ada emosi negatif yang seketika membuncah dalam hati, maka orang inilah yang harus dimaafkan.


Saya percaya, ketika hati telah lapang untuk memaafkan, maka seketika itu pula keajaiban di sekeliling dapat terjadi. Saat kemaafan telah diberikan, maka pada saat itu pulalah energi negatif yang selama ini menjadi tabir antara diri kita dengan orang tersebut akan terbuka. Implikasinya, orang itu pun akan merasakan sesuatu yang sangat positif dalam dirinya. Bukan merupakan hal yang aneh apabila di suatu hari kemudian, setelah kita memberikan maaf pada orang tersebut, secara tiba-tiba sikapnya berubah meskipun kita tak pernah memberitahunya bahwa ia telah mendapatkan sertifikasi kemaafan dari kita.


Sebilah keikhlasan hati untuk memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti atau menzalimi diri, sejatinya dapat menguras energi negatif yang selama ini telah dihasilkan tanpa disadari. Pada saat itulah, energi positif dalam diri akan semakin terpancar dan masa depan yang cerah makin mudah untuk diraih. Kemaafan, dapat menerbangkan noktah-noktah hitam dalam jiwa ke bilangan Andromeda, dan pada saat jiwa dalam keadaan bersih itulah ribuan harap yang disanjungkan akan lebih mudah diijabah oleh Allah, Insya Allah. Wallahu’alam bishshawab.


17 comments:

Ryu`s Mom said...

Seharusnya memang bisa dimaafkan dengan tulus ya..tapi seringkali kenyataannya susah deh buat bener-bener tulus 100%.

made bali said...

postingannya mendalam sekali. terima kasih rosa, membuat saya jadi introspeksi diri. dunia maaf-memaafkan, sesuatu yang belum bisa saya lakukan 100%.

NN said...

Wah baru kemarin mau nulis tentang ini tapi gak jadi, eh ternyata dikau dah menuliskannya dengan baik untuk aku makasih ya

Andik said...

Bismillaah..

Alhamdulillaah.. ga perlu nunggu sampe 3 minggu lagi.. kqkqkqkq..

Eucalyptus said...

Memang gak gampang memaafkan dengan tulus & melupakan kesalahan orang yang pernah menyakiti kita, tapi biar gimanapun jangan sampai kita menjadi orang yang menyimpan dendam....

ichal said...

sebilah keikhlasan!!!
ilmu yang paling mudah diucapkan namun palng sulit diamalkan... sampai kapanpun manusia suit mencapai tingkat kesempurnaan dalam sebuah keikhlasan dan belum ada indikator dalam mengukur derajatnya!!

yang pasti ... ikhlas harus dan wajib di pelajari dan amalkan!!

Anang said...

sabar dan pemaaf adalah jalan keluarnya..

Bakhrian said...

hmmm
buat aku memaafkan itu perkara mudah...
tapi melupakan itu yang sulit..

jadi ingat the corrs

forgiven but not forgotten

Iko said...

Membuat kekeliruan itu manusiawi, tetapi memaafkan adalah cerminan Ilahi.
-Paus Alexander

Jadi seseorang yang mudah memberi maaf, seperti cerminan Ilahi :D

jengnadnet & isya-ayya said...

hmm..jadi keinget ama topik topik Koran hari ini nih bu Dok ;-)) antara memberi maaf...dengan keadilan...
ga berani komen..soalnya aku sdri suka berubah pikiran ;-(

Totok Sugianto said...

saya percaya bahwa segalanya akan menjadi mudah dan lebih baik, jika kita tidak menyimpan energi negatif dalam kehidupan kita. dengan memaafkan maka energi positif akan selalu menaungi kita kemana kita berjalan. Be Positif :D

zein said...

Wa'alaikumsalam...

Orang tua saya ke duanya berasal dari Haruku. Bapak Dari desa Kabau Ibu dari desa Ory. Mungkin bisa di kategorikan sebagai orang haruku (mungkin juga tidak?) Saya lahir di Jakarta dan belum pernah pulang ke Ambon (salah satu sebab mengapa saya pu bertanya, "apa saya benar asli haruku?"
Tapi, terima kasih untuk bertanya. "Apa kamu asli Maluku?" (giliran saya yang bertanya)

Andik said...

Bismillaah..

Btw, saya itu heran kok yang ngasih komen disini sebagian besar pada memposisikan diri sebagai sang pemberi maaf ya. Kok nggak ada gitu yang melihat dari sisi yang meminta maaf. Apa saking egonya kebanyakan dari kita sampe2 nggak kepikiran apa salah kita kepada orang lain? :-? Atau apakah karena gengsi thd harga diri kita terlalu tinggi, sehingga berat untuk mengucapkan "maaf"? Atau apakah memohon maaf termasuk ke dalam kategori "maksiat" sehingga kita malu melakukannya?

Ups.. no offence to anyone, peace ah.. :D

(hanya semakin heran aja dengan tipikal muammalah zaman sekarang #:-S)

imron said...

Banyak orang yang sangat sibuk memikirkan kecerdasannya, memikirkan kesehatan fisiknya, tapi sangat sedikit memikirkan kondisi hatinya. Kalaulah kita harus memilih, seharusnya kita banyak meluangkan waktu untuk memikirkan qolbu ini. Karena jika qolbu ini baik, yang lainnya pun menjadi baik, Insya Allah.

Ady said...

temanya maaf ya... kalau gitu saya minta maaf jarang berkunjung ke blog ini saya juga jarang ngeblog... maafkan ya hehehe....
Btw, prosanya bagus2 sudah bisa bikin satu buku neh... chayo nanti saya pembeli pertama

inda_ardani said...

sebuah bahasan yang cantik dari drg rosa, seperti biasanya hehehe ... ada ungkapan forgiven not forgotten, membuat saya lebih memahami mengapa orang kadang sulit memaafkan, karena kadang orang yang meminta maaf itu tidak kapok, dan malah perlu diwaspadai kalau-kalau dia akan melakukan kesalahan yang merugikan lagi

steelheart said...

blognya bagus mba,..penggemar warna hijau ya? :)

salam kenal ya