Credits to

Powered by Blogger

Wednesday, February 27, 2008

...Satu Rindu...




Syahdan, kehidupan adalah sebuah daur yang akan senantiasa melingkar. Tak selamanya manusia akan berada di puncak kebahagiaan, pun sebaliknya selalu berkutat di bawah kesedihan. Demikian halnya dengan saya sebagai seorang manusia biasa yang teramat dhaif. Belumlah genap tiga minggu saya merasakan kebahagiaan atas pernikahan saya yang dilangsungkan pada 1 Muharram 1429 H yang lalu, Papa yang selama ini bertanggung jawab penuh atas diri saya harus kembali ke haribaan Sang Pemilik Jiwa.


Manusia memang hanya bisa berencana, tetapi Allah jua yang menentukan semuanya. Lebih dari satu bulan yang lalu, saya berencana membuat sebuah kejutan untuk Papa di hari lahirnya yang ke-56, tepat pada hari ini, 27 Februari 2008. Saya ingin pulang dari Seram ke Jakarta tanpa sepengetahuan beliau dan suami saya. Saya ingin sekali mengajak dua lelaki pilihan Allah untuk saya tersebut beserta Mama untuk makan malam bersama di luar. Sejak saya menikah, saya memang belum pernah duduk makan bersama di satu meja dengan mereka, karena satu hari setelah menikah saya sudah harus kembali lagi ke pulau Seram, Maluku, untuk menjalankan tugas profesi.


Namun, rupanya Allah memiliki kehendak lain, Dia telah memanggil Papa tepat delapan belas hari setelah menyerahkan mandatnya kepada suami saya. Tak seperti saat-saat sebelumnya, ketika saya menyampaikan kepada Papa bahwa saya sedang berta’aruf dengan seorang lelaki dan ada kemungkinan bahwa proses untuk menuju pernikahannya akan berlangsung cepat jika satu sama lain telah sama-sama memiliki kemantapan hati, Papa pun tak banyak menentang. Sebelumnya, saya membayangkan bahwa Papa akan berkeras menyuruh saya untuk berpikir ulang mengenai proses yang sedang saya lakukan tersebut. Namun, pada kenyataannya, Papa hanya berujar, "Ya, adek atur aja gmana baiknya, yang penting buat Papa dia bisa mimpin adek, itu aja." Bagi sebagian besar orang, mungkin proses yang saya dan suami saya lakukan bisa dibilang sangat kilat. Satu kali bertemu saat ta’aruf, satu kali bertemu ketika suami saya bertandang ke rumah, satu minggu setelah itu dilangsungkan proses khitbah atau lamaran, dan satu minggu kemudian diikrarkanlah sebuah mitsaqan-ghaliza.


Mungkin, Papa memang sudah menyiapkan seorang pengganti, meski tiada yang bisa menggantikan, dirinya untuk saya. Ya, rindu pada Papa acapkali menelisik syahdu di balik kalbu nan sendu. Berjuta kenangan akan Papa tak akan mungkin hilang dari ingatan saya. Suaranya, senyumnya, tawanya, perhatiannya, kemarahannya, semuanya tentang Papa. Papa yang menurut Mama senantiasa gelisah jika saya belum ada di rumah jika malam telah tiba, Papa yang selalu menelepon saya hanya sekedar menanyakan kabar dan posisi saya berada, Papa yang kerap memarahi saya kala saya melakukan kecerobohan, Papa yang tidak sungkan untuk membeli minuman pereda sakit datang bulan ketika dismennorhoe itu menyerang saya begitu hebat, Papa yang rela mengantarkan saya hingga ke pulau Seram, Maluku, untuk melaksanakan pengabdian profesi, Papa yang hanya memasang foto saya di dompetnya, Papa yang dengan sigap mengambilkan gunting ketika melihat ada benang yang terjulur dari jilbab yang saya kenakan, dan lain-lain.


Terima kasih, Allah, telah memberikan seorang Papa yang demikian hebat untuk seorang perempuan yang rapuh sepertiku. Terima kasih, Pah, telah menyukmakan sosok perempuan yang kuat untuk mengarungi pahit getir kehidupan ini. Ikhtiarku, persembahkan segala yang terbaik untukmu dan membuatmu bangga kala menyaksikanku di alam sana. Harap dan inginku, semoga Allah Rabbul ‘Izzati berkenan mempertemukan kita di alam yang abadi kelak, sebuah ruang di mana kita tidak akan mungkin lagi terpisah oleh apapun jua, Insya Allah.


11 comments:

kiky f said...

sedih bacanya, inget dosa ke papa. Lucky me papaku masih ada....

Calysta Dhinda Oktarasya said...

Ikut terharu bacanya... Papa kamu pasti bangga punya anak spt kamu Ocha..

Totok Sugianto said...

ikut berduka atas berpulangnya Papa smoga diberikan ketabahan hati bagi yang ditinggalkan

w@hyu said...

terharu baca postingan ini.. semoga beliau beristirahat dengan tenang di sana ya Mba..

*jadi kangen sama orang tua.. udah beberapa bulan gak ketemu :(

Ady said...

Rosa, maaf lama tidak berkunjung, turut berduka cita atas wafatnya ayahanda semoga beliau beristirahat dengan tenang..
Oya selamat juga atas pernikahannya, semoga langgeng dan selalu dalam lindunganNya

Eucalyptus said...

Mudah2an pernikahan kamu langgeng ya Ros... & semoga ayahanda bisa beristirahat dengan tenang di alam baqa

Ica Dimyati said...

sayangku barakallah atas pernikahannya ya, dan ikut berduka cita atas wafatnya ayahanda,smg papa dimudahkan urusannya disana dan insya allah blio mendapat tambaha amalan yang berkesinambungan dari anak sholehah seperti dirimu say...

sun sayang n peluk erat dr jauh untuk adikku

Ryuta said...

Innalillahi wainna illaihi roji`un...semoga almarhum diterima disisi Nya, diampuni segala dosa-dosanya serta dilapangkan kuburnya.

Al fatihah buat beliau..

.:diah:. said...

jadi ingat Papa (alm) juga,, smoga orang tua qta yg telah mendahului qta smua tenang di alam sana, menjaga qta dari sana....

moga langgeng yaa Mbak, dengan suaminya, Amin :)

pyuriko said...

Ocha.... yang sabar yaa ^_^

Aku juga kangen sama mas Wan, tgl 1 Maret kemarin dia ultah. Tahun kemarin aku sempat merayakannya bersama.

Akupun sama dengan Ocha, selalu merindukannya. Tetapi mereka sudah senang di sana.... tak lupa juga berdoa untuk mereka yaa.

Anonymous said...

asslm cha.. ini ditha. iseng2 liat blog nya ocha. Blm pernah sblmnya. Terharu bgt bacanya. Bisa ikut ngerasain yang ocha rasain..