Credits to

Powered by Blogger

Monday, July 14, 2008

Ikhtiar

Buana, ujarnya kamu berwarna biru bila tak berbungkus beratus cumulus. Baruna, ia pun acap berucap bahwa satu keajaiban dirimu adalah tak ingin mengalir ke dataran yang lebih tinggi, melainkan ke dataran yang lebih rendah. Itu pula yang telah mengendap di lobus-lobus otakku bahwa jika hendak menjadi tenang sepertinya, maka mengalirlah menurut aturan ‘Arasy. Mentari, katanya kamu selalu muncul di Timur kala pagi hari dan tenggelam di Barat jika bumi telah berputar separuhnya. Ia juga bilang, jikalau ragaku lebih tinggi mungkin aku bisa menggapai keindahannya dalam wujud aurora di polar-polar dunia. Namun, masih menurut penuturannya, panas yang dihasilkannya bisa meluluhlantakkan tulang belulang yang telah disatukan kembali oleh ruhku di hari perhitungan kelak. Semuanya niscaya terjadi bila amalan kebaikanku di dunia teramat ringan.


Meski nampak berkelindan bak untaian benang kusut yang sulit untuk diurai, kesemuanya demikian indah bagiku. Aku merindukan saat-saat di mana aku bisa membuktikan seluruh ucapannya padaku. Pada titik itu, mungkin dadaku agak sedikit membusung oleh rasa bangga yang melingkupi diriku. Ah tidak, aku harus buru-buru menghapus rasa itu dan menghempaskannya jauh-jauh ke bilangan Andromeda karena ia telah kerap mengingatkanku bahwa aku yang kerdil ini tak pantas memilikinya. Rasa itu hanya pantas dimiliki oleh Ia yang telah menciptakan diriku. Tak hanya itu, aku juga teramat rindu untuk menatap legam bola matanya, senyum yang tersungging elok dari bibirnya, halusnya belaian yang menjamah rambut tipisku, dan pagutan lembutnya yang senantiasa syahdu.


Aku begitu mahfum, meski terlihat tegar, lelehan air matanya kala rembulan tak sabar untuk menyambangi surya di ufuk timur sejatinya adalah sebuah kulminasi dari kerapuhan, eksistensi dari kelemahan, eksibisi dari kegalauan, dan ekspresi dari ketercabikan. Maka, sungguh jamak ketika dengan berbuncah kekerdilannya sebagai makhluk ia kemudian merasakan takut. Memang, ia pernah berkisah bahwa ketakutan itu mestinya hanya ditujukan pada Dzat Penguasa semesta. Namun, adalah makhluk yang terusir dari nirwana yang kerap berbisik pada jiwa dalam keterpekuran. Nyalinya memang belum pernah benar-benar teruji. Kadang, ia memilih untuk berjalan meretas hamparan kon blok terakota sambil menikmati kesejukan akasia yang berdiri kokoh. Di satu waktu lain, ia juga sering menyusuri pedalaman ngarai yang dikelilingi pakis. Ia tahu, bahwa hidup adalah pilihan maka cepat atau lambat ia harus memilih. Walau begitu berat implikasi dari pilihannya tersebut, ia tetap memilihnya.


Jalan tersebut bukanlah pilihan kebanyakan makhluk sebab pilu yang mendera telah menanti di ujungnya. Namun, tak tampak keraguan setitik pun pada rautnya yang mulai menunjukkan kebenaran usia biologisnya. Bahkan, senyum selalu tersungging di bibirnya yang terlihat berparit-parit karena mungkin waktunya telah habis untuk berbaring di peraduan dibandingkan untuk meneguk segelas air. Ia bilang dulunya ia pernah berazzam tidak akan pernah mengambil jalan itu, tetapi takdir telah berkata lain. Dinding-dinding kokoh itu telah mengurungnya dalam waktu yang tidak sebentar. Berbagai besi tahan karat itu menjadi saksi akan bermacam polah yang tak pernah diinginkannya. Mungkin ada peluh, mungkin ada amarah, dan bukan tak mungkin banyak jua derai tawa. Sesaat tampak jelas kepasrahan pada rupanya. Ia sudah tak pedulikan lagi segenap kebanalan yang ada. Ketakutannya serta merta terkubur dalam makam tak bernisan. Itikadnya hanya satu : menyeruakkan aksara keharuan atas segenggam nurani.


Aku bahagia karena cintanya padaku bukan sekedar semiotika belaka. Aku pun kelak, ketika cakrawala telah demikian jelas adanya bagiku, ingin mencintanya seperti itu. Cinta yang tak datang dengan kata, tetapi menghampiri dengan hati. Cinta yang tak terucap dengan kata, tetapi hadir dengan sinaran mata. Cinta yang tak hadir karena permintaan, tetapi hadir karena ketentuan. Cinta yang tak sekedar berjanji, tetapi senantiasa berikhtiar untuk memenangi…dengan segenap pengorbanan dan kesetiaan.


16 comments:

kiky f said...

tulisannya mantap kali...:-D

Andik said...

bismillaah...

seperti yg sudah-sudah -_-'

Eucalyptus said...

Kamu paling pinter deh menyusun kata2 indah seperti ini. Salut!!!

Fajar Ramadhan said...

duh kalo udah baca tulisannya Bu Dokter yang satu ini saya bener2 ngerasa jadi orang terbodoh sedunia deh, soalnya gak ngerti gitu maksud tersirat dari tulisannya apa huehuehuehue

Tiwi said...

bahasa sastranya tinggi jeng, aku gak gitu paham...*gak nyampe*...

Adis said...

Hehe...masih seperti yang dulu...gak ngerti aku...

alex said...

Ass.

untaian katanya sangat mendalam, penuh makna

masenchipz said...

wow... bahasanya rileks...tapi tetep dalem maknanya.. ampe gw perlu mbaca2 beberapa kalimat biar paham.... hiks...hiks.... gud postingan dah... gud...gud...

Anonymous said...

uhm..apa yang sedang kau pikir dan rasakan wahai Dinda? ingin juga kurasakan resah gelisah di hatimu

-ursecretadmirer-

Deasy Rosalina said...

@M'Ky : mantap apanya, Mba? ;p

@Andik : seperti yang sudah-sudah itu gmana ya maksudnya? ;))

@M'Evi : biasa aja koq, Mba...curhatan model lain yang gak penting :D

@Fajar : coba dbaca sekali lagi n dalami dengan hati deh, insya Allah dapat dengan mudah dtemukan makna tersiratnya :)

@M'Tiwi : hihihi, gak tinggi2 banget koq Mom...sedeng2 ajah :D

@Adis : ehm...katanya hiatus? :P

@Mas Alex : ya, belajar membuat tulisan yang multiinterpretatif =)

@masenchipz : trus gmana, Mas? udah paham blum maknanya? :p

@secretadmirer : masih ya?

Ndoro Seten said...

bahasane ki lho...
mantabs wis!

geLLy said...

masaallah mantap Bngtt bahasanya kak.....aku tergagum membacanya daleM bngtt

Ryuta Ando said...

Alhamdulillah klo mendapatkan cinta yang seperti itu.

bibipbondry said...

jatoh cinta betapa indahnya ^o^...
ato
ternyata aku makin cinta, cinta sama kamu...
hehe...
smoga diberi kebersamaan slalu dunia akhirat ya, amin

tante makasih ucapan belasungkawanya ya.

Ady said...

Keren dok... terus menulis... rasanya baca gimana gitu hehe...

aroengbinang said...

nduk, biar udah pikunan mbok aku diajari nulis pakai bahasa langit seperti yang kau tulis itu lho... kelembutan yang menyejukkan hati yang sedang gerah sekalipun...