Credits to

Powered by Blogger

Tuesday, June 10, 2008

Memoar Qalbu



Cinta, ingatkah kau hari ini di lima bulan yang lalu? Ya, lima bulan lalu, tepat tanggal 10 Januari 2008, kau telah mengikrarkan sebuah janji suci, janji yang teramat berat di hadapanNya. Oleh karenanya, Al-Qur’an menyebutnya sebagai mitsaqan ghaliza [perjanjian yang kuat dan sangat berat]. Mungkin, kau kerap berujar dalam hati, mengapa aku demikian menghitung detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, dan bulan demi bulan yang kita lalui? Semuanya bermuara pada satu hal : sejatinya, hari yang demikian oleh Allah adalah anugerah bagi hambaNya, dan aku ingin kita selalu mensyukuri setiap hari yang telah kita lewati. Bukan hanya itu, di balik kesyukuran itu, kita pula harus senantiasa bermuhasabah, apakah anugerah yang telah dikaruniakan oleh Allah ini telah kita optimalkan, atau belum?


Lima bulan. Waktu yang bisa dimanfaatkan untuk Zea mays. L [jagung] untuk dapat tumbuh sempurna. Lima bulan juga merupakan titik peralihan ajaib dalam perkembangan seorang bayi mungil. Sesuatu terjadi di dalam system syaraf bayi yang tampaknya menggantikan kebutuhannya menangis. Di titik ini, bayi memperoleh kemampuan berinteraksi dengan dunia dengan cara lain. Ia mulai meraih segala sesuatu dengan kedua tangannya dan bukan menangis lagi. Seluruh tubuhnya, mungkin dapat ikut merasakan kegembiraan karena melihat orang tertawa. Bayi pada usia ini, mungkin merajuk pada saat lapar dan tidak lagi menangis, dan mungkin sanggup untuk menunggu selama beberapa menit. Kemampuan menunggu untuk mendapatkan imbalan ini merupakan satu tahap penting yang memperlihatkan tingkat pengertian dan kepercayaan yang belum terlihat pada bayi yang lebih muda.


Sungguh ajaib bukan, Cinta? Itu semua terjadi hanya dalam waktu lima bulan. Jadi, salah besar bila ada orang yang berujar bahwa waktu lima bulan adalah waktu yang singkat untuk terjadinya sebuah perubahan. Demikian pula dengan lima bulan waktu pernikahan yang telah kita berdua lampaui. Begitu banyak hal yang telah kita alami selama kurun waktu lima bulan ini. Beragam kejadian yang belum pernah kita rasakan dalam kurun waktu kita hidup di bumiNya telah kita alami. Hampir semua kejadian memiliki kesamaan : selalu ada air mata yang tertumpah di dalamnya.


Terkadang, aku bertanya dalam diri, mengapa Allah membuat skenario yang mungkin bila kita hanya melihat secara superfisial, kita hanya menganggapnya sebagai cobaan semata. Mengapa ini semua terjadi di waktu yang seharusnya bisa kita lalui dalam beragam keindahan mahligai pernikahan mengingat singkatnya masa ta’aruf kita yang hanya dalam hitungan hari? Bagiku, ini adalah cara Allah untuk memperkenalkan diriNya pada kita, hamba-hambaNya yang sungguh teramat dhaif. Ini adalah jalan yang ditunjukanNya agar kita dapat membangun sebuah pondasi yang kokoh dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengan engkau sebagai nakhodanya. Kau adalah imamku. Engkau adalah pakaian bagiku dan aku adalah pakaian bagimu. Karenanya, kenakanlah baju zirahmu tuk bertarung demi kehormatanku karena engkau adalah pahlawan yang telah lama kuimpikan.


Sayang, pastinya engkau lebih mengetahuinya daripada aku bahwa : ketika Allah memberikan kita cobaan, berarti Allah sedang memberi perhatian yang lebih, memberikan kasih sayang yang lebih pada kita. Karena hakikat dari cobaan atau ujian adalah sebanding dengan tingkat keimanan kita yang jika kita bersabar, maka Allah akan naikkan keimanan. Namun, sebaliknya jika kita menjadi kufur, maka akan turun tingkat keimanan kita. Mungkin kita telah melupakan malam-malam di mana kita menangis, mengingat semua dosa, khilaf, dan maksiat yang kita lakukan, merenungi betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan. Sejatinya, Allah rindu akan air mata kita, Allah rindu dengan curahan hati kita kepadaNya.


Ya, kita memulai segalanya dari titik nol [seperti yang pernah kau katakan padaku]. Meski berjalan dengan ketertatihan, tertusuk oleh berbagai onak dan duri yang berserak di jalan yang kita lewati, dihujam oleh tombak thagut-thagut keduniawian, terhempas di tengah badai yang ditingkahi dengan ketidakbersahabatan saung tempat kita berteduh, kita harus tetap bertahan. Bangkit untuk kemudian berdiri kokoh dan berjalan tegak tanpa sebiji sawi kesombongan dalam kalbu. Meniadakan dada-dada yang membusung pongah, karena hidup adalah untuk beribadah pada Allah dan Allah menciptakan kita tak lain hanya untuk beribadah padaNya.


Sayang, ketakutanku terhadap hari esok ketika surya mulai menyembul di ufuk timur bukan karena Izrail senantiasa siap untuk mengambil ruhku kapan saja. Ketakutanku semata karena aku belum banyak memberi kepadamu, wahai Pangeranku. Karena, azzamku adalah satu : Aku tidak layak untuk menerima, tapi aku yakin bahwa aku harus selalu memberi. Maaf, jika aku dengan segala kelemahanku belum bisa banyak memberikanmu kebahagiaan melainkan air mata. Terima kasih, untuk secercah cinta yang telah sudi kau berikan padaku, perempuan yang demikian papa. Dan, aku teramat menyadari bahwa bilangan masa akan terus bergulir, bukan mendekati titik nol, melainkan terus merangkak tiada batas. Hingga waktu Israfil meniupkan sangkakala, atau mungkin Izrail dahulu yang datang memanggil. Karenanya, bila usiaku usai sampai di sini dan hari esok benar-benar tak dapat kujumpai lagi, perkenankan aku untuk berujar : aku cinta kamu.


...dedicated special to my beloved husband : Agung Shamsuddin Saragih, luv u very much, Hun, meski hanya terucap lirih yakinilah bahwa namamu ada dalam tiap delik doaku...