Credits to

Powered by Blogger

Monday, July 13, 2009

Kau dan Aku

Syahdan, empat puluh hari menjelang maut menjemput, satu daun yang bertuliskan nama seorang anak manusia dari pohon yang terletak di atas ‘Arasy akan gugur. Daun yang gugur itu lantas akan diambil oleh sang malaikat maut untuk mempersiapkan berbagai perangkat sebuah momen. Momen di mana manusia tersebut akan pergi selamanya dari kefanaan dunia dan memasuki episode baru dalam kehidupannya di bilangan barzah. Usut punya usut, takdir serta nasib manusia secara rinci detik demi detik, tiap desahan nafas, degupan jantung, kerlipan mata, hingga aliran darah yang memerah, jua telah tertoreh di daun dari pohon yang berdiri amat kokoh itu jauh hari sebelum perempuan mulia berjejuluk bunda.mengantarkannya ke dunia.


Begitu pula dengan secarik kisah antara kau dan aku. Kau telah datang dari belahan bumi yang jauh, meski tak sejauh pencarian Adam kepada Hawa yang kemudian bersua di Padang Arofah. Mungkin lukisan bianglala yang telah menghantarkanmu padaku. Mungkin juga semilir gelombang aura telah sampai kepadamu sebelum kau coba ’tuk menyelami Atlantis yang tinggal legenda hanya untuk menyambangiku. Atau bisa jadi ada iradah yang memberimu aufklarung untuk menghentikan segala kedespotisan yang telah membuaiku sejak lama. Satu hal yang kuyakini dengan pasti, perkara itu bukanlah sekedar de ja vu atau khamr telah membikin sebuah muslihat jahat untuk mensubstitusi pilar-pilar keimanan dengan berbuncah nafsu semesta kebumian. Makhluk-makhluk suci bersayap di belahan langit ke tujuh telah dititahkan oleh Sang Pemilik Cahaya untuk menuangkan aksara demi aksara namamu di Lauh Mahfudz untuk mengikrarkan mitsaqon gholizo dengan lelaki tegar pelindungku.


Bila maut dinisbatkan dengan gugurnya daun dari pohon di atas ’Arasy, mungkinkah ’azzam itu lantas dikejawantahkan dalam kedekatan daun-daun kita di sana? Tak perlu kau menautkan sampan rapuh agar bisa mendayungnya hingga ke ujung Tanjung Pengharapan untuk sekedar mendapatkan jawaban. Laiknya untaian beberapa huruf Hijaiyyah pada mukadimah beberapa firmanNya, biarlah itu menjadi rahasia Ilahi yang seluruh panca indera kita tak akan mungkin mampu memahaminya. Mungkin kelak jika kau dan aku mendapatkan syafa’at dari manusia yang paling dicintaiNya untuk merasakan debu za’faran, mendiami bangunan-bangunan dari batu perak dan emas yang berperekat mutiara dan permata yaqut, meminum susu dari sungai-sungai yang tak pernah berhenti mengalir, dan mendapati cahaya yang demikian kemilau, kau dan aku akan meraih jawabannya.


Di atas sajadah panjang yang menghampar, keabadian babak demi babak yang telah kau dan aku lalui masih tetap menyimpan berjuta misteri. Terkadang khauf senantiasa meraja, tetapi bukankah Dia telah mengajari kita untuk juga mengepakkan sayap roja’? Ketawadzunan inilah yang akan menggiring kau dan aku melagukan bait-bait cinta di sepertiga malam. Tak peduli akan hangatnya peraduan dilingkupi selimut berbulu domba. Tak gubris akan elegi syahdu dari mimpi warna warni. Tak risau akan kelopak-kelopak yang membentak ingin dipejamkan. Bila Qais menggigil saat memanggil Laila di keheningan malam, mungkin aku yang dhaif demikian pula adanya. Bila Drupadi begitu loyal terhadap Pandawa, maka sejatinya ikhtiarku adalah seperti itu. Di tepi danau yang dulu pernah menenggelamkan Narcisus, aku akan berkaca. Di situ akan kembali ku lihat dengan jelas, bahwa sempurna bukanlah namaku. Beribu kepongahan pernah dan bahkan mungkin sedang kubangun dengan kokohnya. Berjuta kenistaan jua telah dan sedang ku buat dengan eloknya.


Di tengah guliran jengat rumput jarum yang membasah dan bermain lincah menggoda sang olfaktorius, sujudku padaNya agar tiap pinta bisa diijabah. Mungkin kau sedang beranjangsana ke Andromeda saat itu, mungkin juga cahaya bintang Venus terlalu terang hingga tuturmu kaku untuk mengutarakan sejumput semiotika cinta, atau bahkan jera tengah membentang di jiwamu. Satu yang pasti, syair itu memang lirih kulantunkan hingga epidermismu tak bisa merasa. Inginku kau, segaraning nyawaku, bisa mengisyaratkannya secara profunda hingga kau paham tiap jenak untaian isi nuraniku. Karena meski munajatku tak berima, tiap denyut selalu ada namamu.


*...Cinta adalah kebebasan dalam menentukan pilihan...Dua orang disebut saling mencinta ketika mereka mampu untuk hidup sendiri, namun memilih untuk hidup bersama...[Scott Peck]*

Tuesday, June 30, 2009

Penantian Sakura

Tak ada yang dapat menyangkal bahwa kehadiran musim semi senantiasa dirindukan oleh setiap insan yang hendak beranjak dari ganasnya suhu di musim dingin. Berbeda halnya dengan insan yang secara etimologi memang bermakna lupa, musim semi tak pernah lupa untuk hadir mengiringi berakhirnya musim dingin. Adapun sakura turut merayakan kehadiran musim semi ini. Di tiap hadirnya musim semi, sakura senantiasa mengazzamkan dirinya untuk memadu cinta dengan dahan-dahan yang telah sejak lama ditinggalkannya. Dengan kelopak yang lebih besar daripada sakura di negeri jirannya, sakura di bumi ginseng selalu menisbatkan selaksa asa yang sarat akan romansa.


Namun, berbeda halnya dengan nyiur-nyiur di sepanjang pantai negeri Kamarian yang tetap berdiri tegar meski badai angin Barat menghantam, sakura hanya bertahan dalam bilangan hari. Hiatus adalah tabiat yang dipilihnya untuk menggenapkan legenda yang dimilikinya pada tahun mendatang. Memang, kredo yang cukup aneh kala legenda harus dikejawantahkan seperti itu. Padahal dulunya sempat terujar selaksa cinta yang berbuncah-buncah di solstice musim dingin.


Walau keberanian kerap dilekatkan pada dirinya, kengerian tak pelak selalu menghinggapi tiap jenak kehadirannya. Cibiran angin yang menganggapnya ringkih. Bayangan tangan-tangan degil yang hendak memetik atau sekedar mengguncangkan rapuh dahannya saat hanami. Merpati yang termahsyur akan jinaknya pun akan gahar memangsa seluruh raganya. Tak hanya itu, derasnya hujan bukan tak mungkin akan langsung meluluhlantakkan seluruh legenda yang telah ia susun sejak bertahun-tahun yang lampau. Namun, sekalipun tak pernah ia hadirkan raut itu di cerah mahkotanya yang menggoda. Bila saja ia boleh memilih, bersanding dengan Rafflesia arnoldi sekalipun mungkin akan dijalaninya. Namun, tentu saja bukan tanpa syarat perkara itu akan dipilihnya. Keikutsertaan akar, batang, dan dahan yang merupakan belahan jiwanya menjadi perkara yang tak terbantahkan.


Sakura tak pernah ingkar janji, karena ia berjalan atas bimbingan Rabbnya. Meski tiap tahunnya ia harus tumbuh kemudian hilang dalam iringan air mata, ia percaya atas janji Sang Ilahi. Tak mau kalah dengan Santiago dalam Alchemist, legenda itu tetap ia benamkan dalam-dalam di palung jiwanya.



..Wahai Tuhanku , aku hanya mengenal dua cinta, yaitu cinta karena diriku dan karena diriMu, adapun cinta karena diriku adalah kesibukanku untuk selalu berdzikir kepadaMu, sedang cinta karena diriMu adalah Engkau membuka tabir [hijab) kepadaku sehingga aku bisa menatap wajahMu…[Rabi’ah al Adawiyah]

Saturday, January 10, 2009

Perjalanan

Lelaki itu duduk tertunduk diam di salah satu selasar mesjid. Tak sepatah kata pun meluncur dari bibirnya. Samar. Hanya siluet yang mencitrakan raganya sedikit membungkuk, meski tak serupa dengan Quasimodo dari Notredame. Sekali lagi samar. Tak ada inspirasi yang menggugah jiwa untuk mengetahui di bilangan bumi manakah mesjid itu berada. Demikian halnya dengan laki-laki itu. Dia asing. Entah dari belantara mana dia datang.


Lelaki itu kembali duduk, tetapi tak tertunduk meski masih sedikit membungkuk, di hamparan sajadah sebuah mesjid. Rupanya kini terlihat jelas. Seutas senyum lebar tersungging dari bibirnya. Matanya hanya tampak seperti satu garis sejajar berdampingan. Semilir angin yang melambaikan pelepah-pelepah nyiur sekejap bercampur dengan sejurus tatapan. Dari beberapa guratan tipis di kedua pelipis, tampak jelas jika sebuah memori sedang berusaha keras untuk dihadirkan. Ternyata, persis laiknya panorama yang pernah perempuan itu lihat. Serta merta lafadz tasbih meluncur di dalam hatinya. Ini adalah kuasaNya. Ini adalah iradahNya. Meski masih teramat panjang jalan yang mesti ditempuh, tapi ini adalah kali pertama dalam episode hidupnya.


Delapan belas hari kemudian, lelaki itu kembali duduk tertunduk beberapa hasta di depan mimbar sebuah mesjid. Rupanya tampak begitu bercahaya dibalut pakaian serba putih. Sungguh, tak dipungkiri ia nampak kian gagah dalam balutan itu apalagi seutas janggut tipis pun turut menegaskan kesan tersebut. Di hadapannya jua duduk seorang lelaki yang tak kalah gagah dengannya walau mungkin ada pautan usia yang cukup jauh di antara mereka. Seorang lelaki yang tak hirau dengan peluh yang deras mengucur, tak risau dengan mentari yang panas membakar, dan tak pukau dengan perih yang ganas meranggas. Lelaki itu telah membuktikan pada semesta bahwa ia mampu berdiri meski kedua kakinya rapuh, ia mampu berjalan meski dalam ketertatihan, dan ia pun mampu hidup meski dunia tak bersahabat dengannya. Satu hal yang terpenting adalah : ia mampu menularkan berbuncah semangat tersebut kepada seorang perempuan yang menjadi permata hatinya. Tak ada perkara lain yang menjadi perhatian dalam hidupnya kecuali untuk menjaga dan melindungi seorang perempuan dhaif yang seringkali membuat jantungnya berdegup kencang bila air matanya telah meleleh.


Kedua lelaki itu telah saling berhadapan untuk mengukuhkan sebuah perjanjian yang berat dan bahkan teramat berat. Sebuah ikrar yang dengannya agama bisa menjadi sempurna. Sebuah ikrar di mana bukan penghulu yang menjadi saksi melainkan Allah Rabbul ‘Izzati yang menjadikannya. Sebuah ikrar di mana ribuan malaikat turun untuk turut menyaksikan dan menyanjungkan doa. Sebuah ikrar di mana tiada lagi kewajiban dari lelaki kedua terhadap perempuan dhaif tersebut. Sebuah ikrar di mana seluruh kewajiban untuk menjaga dan melindungi perempuan tersebut akan berpindah ke pundak lelaki pertama. Sebuah ikrar yang bisa menghalalkan hubungan sepasang keturunan Adam dan Hawa. Sebuah ikrar yang akan menjadi awal dari kehidupan yang sebenarnya. Sebuah ikrar yang dengannya manusia bisa menggapai jannahNya. Sebuah ikrar yang hanya akan diucapkan sekali dalam seumur hidup.


Hari itu, tepat satu tahun yang lalu. Hari ini, perempuan dan lelaki itu terus berusaha tuk meretas titian demi titian kehidupan. Terus berikhtiar tuk bisa mengenal satu sama lain. Terus berupaya tuk dapat memahami setiap takdir Allah dan senantiasa ridho terhadapnya. Sejatinya, perjalanan masih teramat panjang. Onak dan duri pun telah siap menanti di sepanjangnya. Bahwa ketaqwaan adalah satu-satunya ruh yang akan bisa menghempas segala badai yang datang. Insya Allah.


*jika terhempas di lautan duka, tegakkan sabar dan tawakkal padaNya…jika berlayar di suka cita ingatlah tuk selalu syukur padaNya…love you even more, hope Allah unite until death do us part*