Credits to

Powered by Blogger

Saturday, January 10, 2009

Perjalanan

Lelaki itu duduk tertunduk diam di salah satu selasar mesjid. Tak sepatah kata pun meluncur dari bibirnya. Samar. Hanya siluet yang mencitrakan raganya sedikit membungkuk, meski tak serupa dengan Quasimodo dari Notredame. Sekali lagi samar. Tak ada inspirasi yang menggugah jiwa untuk mengetahui di bilangan bumi manakah mesjid itu berada. Demikian halnya dengan laki-laki itu. Dia asing. Entah dari belantara mana dia datang.


Lelaki itu kembali duduk, tetapi tak tertunduk meski masih sedikit membungkuk, di hamparan sajadah sebuah mesjid. Rupanya kini terlihat jelas. Seutas senyum lebar tersungging dari bibirnya. Matanya hanya tampak seperti satu garis sejajar berdampingan. Semilir angin yang melambaikan pelepah-pelepah nyiur sekejap bercampur dengan sejurus tatapan. Dari beberapa guratan tipis di kedua pelipis, tampak jelas jika sebuah memori sedang berusaha keras untuk dihadirkan. Ternyata, persis laiknya panorama yang pernah perempuan itu lihat. Serta merta lafadz tasbih meluncur di dalam hatinya. Ini adalah kuasaNya. Ini adalah iradahNya. Meski masih teramat panjang jalan yang mesti ditempuh, tapi ini adalah kali pertama dalam episode hidupnya.


Delapan belas hari kemudian, lelaki itu kembali duduk tertunduk beberapa hasta di depan mimbar sebuah mesjid. Rupanya tampak begitu bercahaya dibalut pakaian serba putih. Sungguh, tak dipungkiri ia nampak kian gagah dalam balutan itu apalagi seutas janggut tipis pun turut menegaskan kesan tersebut. Di hadapannya jua duduk seorang lelaki yang tak kalah gagah dengannya walau mungkin ada pautan usia yang cukup jauh di antara mereka. Seorang lelaki yang tak hirau dengan peluh yang deras mengucur, tak risau dengan mentari yang panas membakar, dan tak pukau dengan perih yang ganas meranggas. Lelaki itu telah membuktikan pada semesta bahwa ia mampu berdiri meski kedua kakinya rapuh, ia mampu berjalan meski dalam ketertatihan, dan ia pun mampu hidup meski dunia tak bersahabat dengannya. Satu hal yang terpenting adalah : ia mampu menularkan berbuncah semangat tersebut kepada seorang perempuan yang menjadi permata hatinya. Tak ada perkara lain yang menjadi perhatian dalam hidupnya kecuali untuk menjaga dan melindungi seorang perempuan dhaif yang seringkali membuat jantungnya berdegup kencang bila air matanya telah meleleh.


Kedua lelaki itu telah saling berhadapan untuk mengukuhkan sebuah perjanjian yang berat dan bahkan teramat berat. Sebuah ikrar yang dengannya agama bisa menjadi sempurna. Sebuah ikrar di mana bukan penghulu yang menjadi saksi melainkan Allah Rabbul ‘Izzati yang menjadikannya. Sebuah ikrar di mana ribuan malaikat turun untuk turut menyaksikan dan menyanjungkan doa. Sebuah ikrar di mana tiada lagi kewajiban dari lelaki kedua terhadap perempuan dhaif tersebut. Sebuah ikrar di mana seluruh kewajiban untuk menjaga dan melindungi perempuan tersebut akan berpindah ke pundak lelaki pertama. Sebuah ikrar yang bisa menghalalkan hubungan sepasang keturunan Adam dan Hawa. Sebuah ikrar yang akan menjadi awal dari kehidupan yang sebenarnya. Sebuah ikrar yang dengannya manusia bisa menggapai jannahNya. Sebuah ikrar yang hanya akan diucapkan sekali dalam seumur hidup.


Hari itu, tepat satu tahun yang lalu. Hari ini, perempuan dan lelaki itu terus berusaha tuk meretas titian demi titian kehidupan. Terus berikhtiar tuk bisa mengenal satu sama lain. Terus berupaya tuk dapat memahami setiap takdir Allah dan senantiasa ridho terhadapnya. Sejatinya, perjalanan masih teramat panjang. Onak dan duri pun telah siap menanti di sepanjangnya. Bahwa ketaqwaan adalah satu-satunya ruh yang akan bisa menghempas segala badai yang datang. Insya Allah.


*jika terhempas di lautan duka, tegakkan sabar dan tawakkal padaNya…jika berlayar di suka cita ingatlah tuk selalu syukur padaNya…love you even more, hope Allah unite until death do us part*

7 comments:

Bunda NaNas said...

Dalem banget mbak tulisannya, bikin novel aja deh :). Met hari jadi ya, semoga langgeng, bahagia, n dikaruniai anak yg sholeh dan sholehah. Amin

mutia said...

happy anniversary mba ocha :)

Razak Jr. said...

ahahahah.. saya menjadi salah satu saksi peristiwa di atas...

congrats ya cha.. semoga langgeng jaya...

ndik said...

yg gw inget, tuh laki2 ma perempuan terkesan malu2 kucing gimana gituh :D apalagi pas mergokin perempuannya lagi didandanin hahahaha

dan satu lagi, moment terakhir yg gw bisa liat dari laki2 tua yg disebutin ini,

"pak, udah ganteng aja nih, udah siap blm? jgn gemeteran ye, btw, baswei, eniwei, nih pesanannya, cek dulu deh, barang bagus nih, ya walaupun gak gede2 banget, gak ngecewain lah"

ternyata, itu moment yg terakhir sampai saat ini gw ketemu sama dua laki2 tersebut beserta perempuanya

Uchi Rusdi said...

Subhanallah... tulisan yg sangat indah dan menyentuh (jadi terharu membacanya hiks...) Membaca ini mengingatkan kembali setahun perjalanan ana dan suami (sama2 di bulan januari juga yah :))
" Prinsip berkeluarga adalah myempurnakan, saling menolong, saling mengasihi, dan saling membesarkan hati untuk menanggung hidup " (Asy-Syahid Hasan Al-Banna)

KURNIA PRATIWI said...

Selamat hari jadi ya mba rosa..Semoga Allah senantiasa karuniakan keberkahan dalam keluarga mba dan mas..Amin..

Anonymous said...

Ass......semoga untai-untaian kata-kata dalam tulisan itu dapat memberi power dan juga motivasi kepada setiap pembaca... oy, mbak pernah di seram ya? soalnya saya juga dari seram kairatu desa Hualoy, I'm sorry sdh membuka bloggernya.