Credits to

Powered by Blogger

Tuesday, June 30, 2009

Penantian Sakura

Tak ada yang dapat menyangkal bahwa kehadiran musim semi senantiasa dirindukan oleh setiap insan yang hendak beranjak dari ganasnya suhu di musim dingin. Berbeda halnya dengan insan yang secara etimologi memang bermakna lupa, musim semi tak pernah lupa untuk hadir mengiringi berakhirnya musim dingin. Adapun sakura turut merayakan kehadiran musim semi ini. Di tiap hadirnya musim semi, sakura senantiasa mengazzamkan dirinya untuk memadu cinta dengan dahan-dahan yang telah sejak lama ditinggalkannya. Dengan kelopak yang lebih besar daripada sakura di negeri jirannya, sakura di bumi ginseng selalu menisbatkan selaksa asa yang sarat akan romansa.


Namun, berbeda halnya dengan nyiur-nyiur di sepanjang pantai negeri Kamarian yang tetap berdiri tegar meski badai angin Barat menghantam, sakura hanya bertahan dalam bilangan hari. Hiatus adalah tabiat yang dipilihnya untuk menggenapkan legenda yang dimilikinya pada tahun mendatang. Memang, kredo yang cukup aneh kala legenda harus dikejawantahkan seperti itu. Padahal dulunya sempat terujar selaksa cinta yang berbuncah-buncah di solstice musim dingin.


Walau keberanian kerap dilekatkan pada dirinya, kengerian tak pelak selalu menghinggapi tiap jenak kehadirannya. Cibiran angin yang menganggapnya ringkih. Bayangan tangan-tangan degil yang hendak memetik atau sekedar mengguncangkan rapuh dahannya saat hanami. Merpati yang termahsyur akan jinaknya pun akan gahar memangsa seluruh raganya. Tak hanya itu, derasnya hujan bukan tak mungkin akan langsung meluluhlantakkan seluruh legenda yang telah ia susun sejak bertahun-tahun yang lampau. Namun, sekalipun tak pernah ia hadirkan raut itu di cerah mahkotanya yang menggoda. Bila saja ia boleh memilih, bersanding dengan Rafflesia arnoldi sekalipun mungkin akan dijalaninya. Namun, tentu saja bukan tanpa syarat perkara itu akan dipilihnya. Keikutsertaan akar, batang, dan dahan yang merupakan belahan jiwanya menjadi perkara yang tak terbantahkan.


Sakura tak pernah ingkar janji, karena ia berjalan atas bimbingan Rabbnya. Meski tiap tahunnya ia harus tumbuh kemudian hilang dalam iringan air mata, ia percaya atas janji Sang Ilahi. Tak mau kalah dengan Santiago dalam Alchemist, legenda itu tetap ia benamkan dalam-dalam di palung jiwanya.



..Wahai Tuhanku , aku hanya mengenal dua cinta, yaitu cinta karena diriku dan karena diriMu, adapun cinta karena diriku adalah kesibukanku untuk selalu berdzikir kepadaMu, sedang cinta karena diriMu adalah Engkau membuka tabir [hijab) kepadaku sehingga aku bisa menatap wajahMu…[Rabi’ah al Adawiyah]