Credits to

Powered by Blogger

Sunday, November 06, 2011

Kesejatian Cinta


Adalah suatu hal yang menakjubkan, ketika hari beranjak menjauh dari titik ekuinoks musim gugur menuju solstice musim dingin. Malam nan kian leluasa merajai hari. Fajar yang melenakan sebagian insan di atas peraduannya karena kerap terlambat menyapa kicau burung. Hawa sejuk yang memagut lembut tanpa harus sakit menggigit. Yang paling memesona ialah kala dedaunan melukis indah dirinya dengan balutan warna-warni. Menakjubkan. Hanya kata itu mungkin yang bisa menyairkan kekaguman yang tiada tara akan satu episode dari iradah Ilahi.

Namun, sebagaimana Ia kerap mengajarkan hambaNya bahwa tiada keabadian selain Yang Maha Abadi, kesemuanya hanyalah eksotika dalam tempo yang demikian singkat. Warna-warni yang tadinya begitu indah harus berganti menjadi lusuh dan dalam kejapan rintik hujan kemudian luruh. Manusia mungkin berpikir kuasaNya terlampau despotis, mencerabut sebuah elegi yang baru saja akan ditoreh. Tak bisakah berjalan di titian terakota selayak ini sepanjang tahunnya? Lantas, muncul sebuah tanda tanya besar. Bila Tuhan bermufakat akan hal ini, apakah manusia akan berhenti membuat kedzhaliman di muka bumi? Atau justru malah menjadi sebuah paradoksal yang akan membinasakan diri mereka sendiri?

Barangkali, begitulah sejatinya cinta. Cinta yang bertumbuh dari selaksa keelokan rasa hingga eros acap berkuasa. Segenap terasa jelita meski kerapkali ternyata buta. Kadang, lagi-lagi waktu yang harus menjadi hakim apakah agape mampu menyelaras dengan pantas. Momen itulah yang mungkin akan menjadi kulminasi. Sudah menjadi sebuah rahasia yang disimpan bersama oleh khalayak bahwa eros senantiasa singgah dalam kurun yang pendek. Kalakian, apakah masih akan ada asumsi bahwa Tuhan mengambil peran? Bahwa kerutan telah menghiasi paras indah nan juwita. Bahwa hipotalamus mungkin saja telah lelah menghasilkan senyawa yang menghidupkan malam menjadi penuh gelora. Bahwa rotasi bumi atau roda pedati juga merupakan keniscayaan bagi fase kehidupan insan. Ya, eros memang liar. Ia bisa datang sejadi-jadinya dan pergi sejauh-jauhnya.

Akan tetapi, pesimis tak seharusnya ada dalam kamus cinta manusia. Karena manusia lahir dari sebuah cinta. Cinta Tuhan yang bukan tiada tanpa tujuan, melainkan untuk menyembahNya. Lantaran itulah, agape hanya terbit di hati yang penuh kearifan. Ia tak tersentuh dari jiwa yang kasar apalagi hati yang membatu. Manusia yang baik hanya untuk manusia yang baik dan demikian sebaliknya. Lantas, kembali muncul sebuah tanda tanya. Apakah perbedaan lantas menjadi tiada? Namun, bukankah sebuah kemustahilan menemukan manusia yang sama secara absolut? Adapun pandangan manusia mengenai kesamaan tersebut begitu naïf. Di saat kemafhuman akan hal tersebut muncul dan kebencian menjadi musnah, di situlah agape kan berjaya.

Satu yang pasti, janji Tuhan adalah hakiki. Tak menduakanNya di dalam hati dan menjaga ikatan kokohNya agar tetap suci serta mengalun dalam sinergi. Tetap berdekap erat di kala senyap. Terus bergandeng mesra di saat marah. Teguh bersujud panjang di waktu lapang. Beda pada dirimu adalah peluang baktiku yang tak bijak untuk kukoyak. Beda pada dirimu adalah caraNya agar aku mau belajar. Beda pada dirimu tak lain adalah janji yang Ia tepati agar kita bersama masuki jannahNya dalam cinta. Semoga.

Gyeongsan, 7 November 2011

~sebuah elegi kesyukuran di hari lahir yang tercinta...terima kasih, Cinta...tak perlu mengurai segalanya, karena tiap doa adalah juri, karena tiap tutur adalah saksi, dan karena tiap laku adalah bukti...itu cukup bagiku~

6 comments:

abusyauqi said...

uhhuyy

RoSa said...

@abusyauqi ... apakareba??? masih apdet blog kah?

Fajar said...

tetap seperti Rosa yang dulu aku kenal :), keep up the good work

andiktaufiq said...

masih... membuatku tak mengerti :p

puteriamirillis said...

salam kenal mbak, dan happy birtday to your hubby.di awal perkenalan ini aku memberi pr padamu...http://puteriamirillis.blogspot.com/2011/12/pr-sebelas.html#more

Mustika said...

cinta memang indah ya pak,preman bisa jadi baik gara2 cinta..tapi begitu juga sebalik nya