Credits to

Powered by Blogger

Thursday, December 20, 2012

Batu Hitam dan Putih

Ada satu kisah yang menjadi kepercayaan masyarakat Korea. Setiap manusia yang hidup di dunia ini sejatinya memikul satu karung besar yang berisi bebatuan berwarna hitam dan putih dengan jumlah yang sama. Batu-batu tersebut diibaratkan sebagai nasib manusia. Warna putih sebagai perlambang nasib baik dan warna hitam sebagai perlambang nasib buruk. Dalam setiap episode dari perjalanan hidupnya, manusia akan mengambil masing-masing satu buah batu dari karung tersebut. Bila yang terambil adalah batu berwarna putih, maka nasib baik akan menghampirinya dan bila yang terambil adalah batu berwarna hitam, maka nasib buruk akan menimpanya. Oleh karena itu, jika di beberapa episode kehidupan manusia hanya batu hitam yang terambil atau dengan kata lain hanya nasib buruk yang menyelimutinya, maka jumlah batu putih atau nasib baik yang tersisa di dalam karungnya masih teramat banyak, dan jua sebaliknya.

Namun, bagi seorang mukmin, perkara terambilnya batu putih atau hitam seharusnya tidak menjadi satu masalah besar. Karena Rasulullah telah bersabda,
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Dan, sikap yang demikian tidaklah terjadi kecuali oleh orang beriman. Jika mendapatkan kebahagiaan ia bersyukur dan yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan kesulitan, dia pun bersabar, dan yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. [HR. Muslim]

Berbicara mengenai kesulitan, Allah Nan Maha Rahiim juga telah berfirman;
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." [QS. Al-Insyirah 5-6]

Kata "yusra" dalam bahasa Arab memiliki makna "mudah". Dalam ayat tersebut, kata "yusra" tidak memiliki 'alif lam' sehingga maknanya "kemudahan yang tiada terhingga". Sementara itu, kata "al-'usri" memiliki makna sulit. Karena memiliki 'alif lam', maka makna kesulitannya spesifik pada satu obyek. Kata-kata tersebut diulang hingga dua kali. Artinya, Allah ingin memberikan penegasan bahwa sesungguhnya di balik setiap satu kesulitan, Ia akan berikan kemudahan tak terhingga dari pintu-pintu lainnya. Masya Allah, bukankan Allah sebenar-benar pemegang janji?

~Yang selalu membuatku malu pada Rabbku adalah; 'amalku timpang, 'ibadahku kurang; tapi karuniaNya selalu sempurna. [Fudhail ibn 'Iyadh]~

No comments: