Credits to

Powered by Blogger

Tuesday, December 25, 2012

Menyoal Kompetisi

"어머니 축하드립니다, 나중에 연락할게요..."
"Mother congratulation, we will contact you later"

Kalimat tersebut keluar dari seorang guru saat saya mendapatkan daftar tunggu pada pengundian murid yuchiwon (TK) yang akan masuk pada tahun ajaran mendatang. Awalnya, saya begitu kaget. Mengapakah hanya sekadar daftar tunggu harus diberi selamat sedemikian rupa?

Usut punya usut, sebagai salah satu negara yang laju pertumbuhan penduduknya paling rendah di dunia, pemerintah Korea akan memberlakukan satu kebijakan baru yang difokuskan untuk pendidikan anak mulai tahun depan. Setiap orangtua akan diberikan tunjangan sebesar 220,000 won atau sekitar 1,8 juta rupiah untuk memasukkan anak mereka ke yuchiwon. Namun, mengingat bahwa jumlah yuchiwon masih tetap sama, banyak pihak yang mengkhawatirkan kebijakan tersebut akan memicu ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan.

Oleh karena itu, jika dulu sistem penerimaan murid di beberapa yuchiwon masih berdasarkan 'first come, first serve', maka tahun ini otoritas pendidikan mengharuskan semuanya menggunakan sistem pengundian. Dari jumlah anak-anak usia prasekolah sebanyak 1,3 juta, yuchiwon di Korea hanya bisa menampung sebanyak kurang lebih 600 ribu murid saja. Ini artinya, di usia yang masih dini, anak-anak di Korea sudah harus dihadapkan pada suatu kompetisi yang ketat.

Akan tetapi, bila berbicara perihal kompetisi, manusia bisa terlahir ke dunia pun atas suatu kompetisi yang ketat. Bagaimana tidak? Dalam proses pembuahan, satu sperma harus bersaing dengan jutaan sperma lainnya untuk bisa memasuki satu ovum yang telah menunggu di tuba Falopii. Hanya yang terkuat dan terbaiklah yang bisa mencapai dan menembus lapis demi lapis ovum.

Karenanya, jiwa untuk berkompetisi atau bersaing di antara manusia pastilah ada. Bersaing untuk menjadi yang bersaing untuk menjadi yang terpintar, bersaing untuk menjadi yang tercantik, atau bersaing untuk menjadi yang terkaya. Ya, pada akhirnya acapkali manusia terjebak pada kompetisi untuk menjadi yang terbaik di mata manusia. Namun, apakah itu hikmah yang ingin ditunjukkan Allah kepada manusia dari kejadian penciptaannya? Jika kita coba tadabburi firmanNya, maka kita akan bisa temukan jawabannya.
"...Maka berlomba-lombalah kamu sekalian dalam berbuat kebaikan, di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat)..."[QS. Al-Baqarah: 148],

Demikianlah, Allah telah menyuruh manusia untuk berlomba-lomba di dalam kebaikan. Kebaikan menurut siapa? Tentunya kebaikan menurut penilaian Allah...Karena, yang paling mulia di sisiNya, hanyalah manusia yang paling bertaqwa [QS. Al-Hujurat: 13].

Tak ada cara memuliakan jiwa kita, yang seindah mentaati Allah. Dan tiadalah kita menghinakan jiwa, kecuali dengan bermaksiat pada Allah. [Salim A.Fillah]

~Anakku, semoga engkau tak terjebak pada selaksa kompetisi semu di dunia yang fana ini. Usah risau akan penilaian manusia terhadapmu. Risaulah jika ridha Allah tiada membersamaimu~

1 comment:

~A~ said...

setelah sekian lama, masih betah pake design ini ya? :)